Gianni Infantino di Persimpangan: Skandal Investasi, Aliansi Trump, dan Tekanan UEFA
Baca dalam 60 detik
- Presiden FIFA Gianni Infantino menghadapi gelombang kritik setelah rencana penjualan 21% saham bisnis komersial Piala Dunia dibatalkan.
- Kedekatannya dengan Presiden AS Donald Trump dan gaya hidup mewah memicu kekhawatiran netralitas politik dan etika di tubuh FIFA.
- UEFA mengancam boikot turnamen FIFA, sementara dukungan dari asosiasi non-Eropa membuat posisi Infantino tetap kuat.

Gianni Infantino kembali ke rutinitasnya: mendarat di Cali, Kolombia, disambut langsung oleh presiden federasi sepak bola setempat, Ramon Jesurun, untuk menghadiri pelantikan presiden baru negara itu. Momen ini, yang diunggah ke media sosial federasi, menunjukkan bagaimana seorang presiden FIFA menjalankan diplomasi tingkat tinggi—sebuah tarian kekuasaan yang kini diuji oleh badai skandal terbesar selama masa jabatannya.
Skandal yang dimaksud adalah rencana FIFA Forward Enterprise, sebuah inisiatif untuk menjual 21% saham bisnis komersial dan tiket Piala Dunia kepada perusahaan ekuitas swasta. Rencana ini menuai kecaman luas, termasuk dari UEFA yang mengancam akan memboikot turnamen FIFA. Infantino telah meminta maaf dan menyatakan akan bertahan, namun ancaman boikot itu masih menggantung, terutama dengan Piala Dunia U-20 yang akan digelar di Polandia dalam 29 hari.
Gaya hidup Infantino sendiri kerap menjadi sorotan. Ia bepergian dengan jet eksekutif Qatar Airways, dikawal iring-iringan mobil Mercedes hitam, dan menerima gaji yang jauh lebih besar dari pendahulunya. Menurut laporan, gajinya mencapai sekitar £4 juta per tahun, tiga kali lipat dari saat pertama kali terpilih pada 2016. Ia juga mendapat tunjangan harian £20.500 per tahun. Meski demikian, Infantino berdalih bahwa pendapatan rekor dan pendanaan untuk asosiasi anggota membuktikan nilainya.
Aliansi eratnya dengan Presiden AS Donald Trump menjadi titik kontroversi. Infantino pernah hadir dalam tur diplomatik Trump di Timur Tengah, terlambat dua jam dalam Kongres FIFA di Paraguay, dan memberikan FIFA Peace Prize kepada Trump. Bahkan, dalam kasus kartu merah Folarin Balogun, Trump mengaku menelepon Infantino untuk meminta peninjauan, meskipun Infantino membantah adanya intervensi. Puncaknya, investor yang terlibat dalam FIFA Forward Enterprise dikaitkan dengan keluarga Kushner, menantu Trump.
Di balik kemewahan itu, ada pertanyaan besar tentang transparansi. Infantino hanya mengadakan konferensi pers terbuka dua kali dalam empat tahun terakhir, dan lebih sering tampil dalam wawancara yang diproduksi FIFA. Komentarnya yang meremehkan penolakan visa wasit Somalia, Omar Artan, dengan mengatakan "just, you know, chill, relax", menuai kritik tajam. Pernyataan FIFA pekan ini mencoba menunjukkan penyesalan, namun juga menegaskan tidak akan mentolerir serangan terhadap integritasnya.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan karena PSSI dan federasi Asia lainnya sering menjadi penerima manfaat pendanaan FIFA. Jika Infantino jatuh, kebijakan pendanaan dan format turnamen bisa berubah, memengaruhi peluang Timnas dan pengembangan sepak bola nasional. Namun, jika ia bertahan, status quo akan berlanjut, dengan segala kontroversinya.
Masa depan Infantino kini berada di ujung tanduk. UEFA melihat momen ini sebagai peluang untuk memaksanya mundur, tetapi dukungan dari luar Eropa, seperti yang terlihat di Kolombia, menunjukkan basis kekuatannya masih solid. Pertanyaannya, akankah skandal ini menjadi titik balik bagi tata kelola FIFA, atau hanya riak kecil di tengah lautan kekuasaan yang telah lama dinikmatinya?



