Ketegangan Roma-Madrid Meningkat: Italia Menolak Ultimatum Spanyol soal Kontrol Perbatasan
Baca dalam 60 detik
- Spanyol mengancam akan memberlakukan pembatasan perjalanan bagi warga Italia jika Roma tidak mencabut kontrol perbatasan di Ceuta hingga Minggu.
- Italia menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan, mempertahankan penangguhan aturan Schengen hingga 15 Agustus dengan alasan keamanan migrasi.
- Perselisihan ini memperdalam perpecahan politik di Uni Eropa antara pendekatan keras Meloni dan kebijakan liberal Sanchez.

Perseteruan diplomatik antara Italia dan Spanyol mencapai titik terendah baru setelah Roma dengan tegas menolak permintaan Madrid untuk mencabut kontrol perbatasan di wilayah kantong Ceuta. Pemerintah Italia menyatakan tidak akan menerima "ultimatum atau paksaan" dari Spanyol, menegaskan kembali komitmennya untuk mempertahankan pengawasan ketat bagi warga non-Uni Eropa yang datang dari Spanyol setidaknya hingga 15 Agustus mendatang.
Ketegangan ini bermula dari keputusan Italia memberlakukan kembali pemeriksaan perbatasan di tengah gelombang besar migran yang mencoba masuk ke Ceuta pekan lalu. Spanyol menganggap langkah tersebut tidak beralasan, bertentangan dengan kepentingan Uni Eropa, dan diskriminatif terhadap warga Spanyol. Madrid bahkan mengancam akan mengambil tindakan balasan yang proporsional jika Italia tidak mengubah sikapnya sebelum tenggat waktu yang diberikan, yaitu Minggu.
Namun, kantor Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni membalas dengan pernyataan keras, mengingatkan bahwa otoritas Spanyol sendiri telah memperingatkan potensi gelombang migrasi baru pada 15 Agustus. Italia bersikeras hanya akan mempertimbangkan kembali kebijakannya jika ada kepastian tidak ada ancaman keamanan, risiko terorisme, atau pergerakan migran ilegal menuju wilayah Eropa. Sikap ini menunjukkan bahwa Roma menempatkan keamanan nasional di atas solidaritas Uni Eropa.
Data dari penjaga sipil Spanyol menyebutkan sekitar 72.000 orang mencoba menyeberang ke Ceuta dalam sepekan terakhir, dengan puluhan korban jiwa. Sebagian besar telah kembali ke Maroko, namun ratusan anak di bawah umur tanpa pendamping masih berada di Ceuta. Italia, yang tidak berbagi perbatasan darat dengan Spanyol, beralasan bahwa penangguhan sebagian aturan Schengen diperlukan untuk mencegah migran dari Ceuta mencapai Italia. Namun, Madrid menilai argumen itu tidak berdasar karena para migran ilegal tidak memiliki akses legal ke kawasan Schengen.
Di balik perselisihan teknis ini, terdapat perbedaan ideologis yang mendalam antara Meloni, yang dikenal sebagai salah satu tokoh paling vokal di Eropa untuk kontrol imigrasi ketat, dan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez yang cenderung liberal dan baru saja mendukung program regularisasi besar-besaran untuk migran tidak berdokumen. Menteri Pemuda Spanyol, Sira Rego, bahkan menuduh Meloni sedang melakukan "perang salib" terhadap Spanyol, sebuah pernyataan yang semakin memperuncing ketegangan.
Bagi Indonesia, konflik ini memberikan gambaran tentang kompleksitas manajemen migrasi di kawasan yang lebih maju. Meskipun Indonesia tidak terikat aturan Schengen, dinamika serupa dapat muncul dalam kerja sama regional ASEAN, terutama dalam hal penanganan pengungsi dan keamanan perbatasan. Keputusan Italia untuk memprioritaskan keamanan nasional meskipun berisiko memecah belah Uni Eropa bisa menjadi pelajaran tentang keseimbangan antara kepentingan domestik dan komitmen multilateral.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah Spanyol akan benar-benar memberlakukan pembatasan bagi wisatawan Italia, yang dapat memicu eskalasi lebih lanjut dan merusak hubungan bilateral. Atau, akankah ada mediasi dari lembaga Uni Eropa untuk meredakan ketegangan? Yang jelas, perselisihan ini menunjukkan bahwa isu migrasi tetap menjadi titik rawan yang dapat menguji solidaritas Eropa di tengah tekanan politik domestik masing-masing negara.



