Kontrak Berakhir: Milan Resmi Berpisah dengan Bennacer, Gelandang Aljazair Dikabarkan Menuju Qatar
Baca dalam 60 detik
- AC Milan secara resmi mengakhiri kontrak Ismael Bennacer melalui kesepakatan bersama, menutup tujuh tahun kebersamaan.
- Bennacer, yang pernah menjadi pilar Scudetto 2021-22, gagal pulih total dari cedera lutut dan hanya tampil sporadis dalam dua musim terakhir.
- Rumor mengaitkan Bennacer dengan Al-Gharafa di Qatar, menandai babak baru kariernya di luar Eropa.

AC Milan secara resmi mengumumkan perpisahan dengan gelandang asal Aljazair, Ismael Bennacer, melalui kesepakatan bersama untuk mengakhiri kontrak yang masih tersisa. Keputusan ini mengakhiri kebersamaan selama tujuh tahun yang diwarnai gelar Scudetto, tetapi juga dibayangi cedera berkepanjangan yang membuatnya jarang tampil dalam dua musim terakhir.
Dalam pernyataan singkat yang dirilis klub, Milan menyampaikan apresiasi atas dedikasi Bennacer dan mendoakan yang terbaik untuk masa depannya. Langkah ini diambil setelah pemain berusia 28 tahun itu menghabiskan musim 2024-25 dengan status pinjaman di Olympique Marseille, kemudian dipinjamkan lagi ke Dinamo Zagreb pada musim 2025-26. Kini, kabar terbaru menyebutkan bahwa Bennacer berpeluang melanjutkan karier di Liga Qatar bersama Al-Gharafa.
Bennacer tiba di San Siro pada musim panas 2019 dengan nilai transfer sekitar 16 juta euro dari Empoli. Selama berseragam Rossoneri, ia mencatatkan 178 penampilan kompetitif, termasuk 137 laga di Serie A. Puncak kariernya terjadi pada musim 2021-22 ketika ia menjadi bagian penting dari skuad asuhan Stefano Pioli yang merebut gelar juara liga, dengan tampil dalam 31 pertandingan liga.
Namun, cedera lutut serius yang dideritanya pada akhir musim 2022-23 menjadi titik balik yang mengubah arah kariernya. Bennacer baru kembali merumput pada Desember 2023, tetapi hanya mampu tampil 20 kali di Serie A pada musim 2023-24, mayoritas sebagai pemain pengganti. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi menjadi pilihan utama, dan akhirnya diizinkan pergi dengan status pinjaman.
Kepergian Bennacer menandai berakhirnya era bagi salah satu gelandang bertahan yang sempat diandalkan Milan. Bagi klub, langkah ini memberikan ruang fiskal dan skuad untuk regenerasi, terutama di lini tengah yang kini dihuni pemain-pemain muda seperti Tijjani Reijnders dan Yacine Adli. Sementara itu, bagi Bennacer, pindah ke Qatar bisa menjadi pilihan pragmatis untuk mengakhiri karier dengan kontrak menguntungkan, meski kompetisinya jauh dari level Eropa.
Dari perspektif Indonesia, kepindahan pemain sekaliber Bennacer ke Liga Qatar menyoroti tren pemain top yang meninggalkan Eropa demi tantangan baru di kawasan Timur Tengah. Hal ini juga menjadi pengingat bahwa cedera adalah faktor terbesar yang dapat mengubah lintasan karier seorang pesepakbola, sebuah pelajaran yang relevan bagi pengembangan pemain muda Indonesia yang mulai merambah kancah internasional.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah Bennacer dapat menemukan kembali performa terbaiknya di Al-Gharafa, atau justru akan menghilang dari sorotan. Bagi Milan, keputusan ini sekaligus menjadi ujian bagi manajemen dalam membangun skuad yang lebih sehat dan kompetitif tanpa beban kontrak pemain yang sering cedera.



