Boston Jatuh Hati pada Skotlandia: Bisakah Suporter Inggris Menyusul?
Baca dalam 60 detik
- Ribuan suporter Skotlandia membanjiri Boston untuk Piala Dunia, meninggalkan kesan mendalam dengan perilaku sopan dan semangat pesta yang unik.
- Wali Kota Boston dan media lokal memberikan penghormatan khusus, termasuk rencana menjadikan Glasgow sebagai kota kembar dan iklan satu halaman penuh.
- Kini giliran 10.000–15.000 suporter Inggris yang datang; tantangan mereka adalah mengulang chemistry yang telah terbangun antara warga Boston dan Skotlandia.

Boston, kota yang baru saja dimanjakan oleh ribuan suporter Skotlandia yang memadati Piala Dunia 2026, kini bersiap menyambut gelombang baru pendukung Inggris. Pertanyaannya, akankah hubungan istimewa yang terjalin antara warga Boston dan Tartan Army bisa terulang?
Selama dua pekan terakhir, Boston menjadi pusat perayaan sepak bola setelah menjadi tuan rumah dua pertandingan pertama Skotlandia sejak 1998. Puluhan ribu penggemar Skotlandia—dikenal sebagai Tartan Army—turun ke kota, mengubah stasiun kereta menjadi panggung nyanyian dan Fenway Park menjadi arena sepak bola. Manajer pub Cask 'n Flagon, Brandon Finnan, mengaku kewalahan namun terkesan. "Kami hampir kehabisan semua jenis bir pada satu titik, tapi itu sangat menyenangkan," katanya. Ia menambahkan bahwa para pendatang itu membersihkan sendiri, menghormati budaya tip setempat, dan membawa kebahagiaan yang sangat dibutuhkan kota.
Kesan positif itu meluas hingga ke tingkat pemerintahan. Wali Kota Boston Michelle Wu menandatangani surat niat untuk menjadikan Glasgow sebagai "kota kembar" Boston. Boston Globe bahkan memasang iklan satu halaman penuh yang memuji Tartan Army: "Kalian datang untuk Piala Dunia, tapi memberi kami lebih dari itu. Kalian mengubah Juni biasa menjadi sesuatu yang akan kami bicarakan selama bertahun-tahun." Presiden Boston Red Sox Sam Kennedy juga mengirim surat ke Asosiasi Sepak Bola Skotlandia, menyebut kehadiran mereka sebagai "sesuatu yang tak akan kami lupakan" dan memuji semangat yang tak ada tandingannya dalam olahraga Amerika.
Namun, euforia itu kini bergeser. Sebagian besar suporter Skotlandia telah beranjak ke Miami untuk laga pamungkas melawan Brasil, digantikan oleh 10.000 hingga 15.000 pendukung Inggris yang akan menyaksikan timnya bertemu Ghana. Para pengelola pub di Boston mulai bersikap hati-hati. Brandon Finnan memperkirakan suasana akan "sedikit berbeda" karena Inggris lebih dianggap sebagai favorit, bukan underdog seperti Skotlandia. "Kami sudah jatuh cinta pada Skotlandia, jadi kami di pihak mereka," ujarnya. Manajer The Dubliner, Brian McDonnell, bahkan secara blak-blakan mengatakan tidak akan memasang bendera Inggris sebanyak bendera Skotlandia, meski tetap menyambut mereka.
Ketegangan sempat terlihat saat vokalis Mumford & Sons, Marcus Mumford, diejek setelah bercanda menyalahkan Skotlandia atas hujan di Boston. Teriakan "No Scotland, No Party" terdengar di konser tersebut—sebuah sinyal bahwa warga Boston belum sepenuhnya beralih hati. Namun, perwakilan Asosiasi Suporter Sepak Bola Inggris, Thomas Concannon, optimistis. Ia yakin budaya Inggris cocok dengan Boston dan para pendukungnya akan "menyamai atmosfer pesta Skotlandia, minus bagpipe". Frank Fishman dari Red Sox menambahkan bahwa perbedaan budaya sepak bola tidak berarti perbedaan dalam keramahan antarmanusia.
Bagi Indonesia, kisah Boston ini menjadi cermin bagaimana sepak bola bisa menjadi jembatan diplomasi budaya. Di tengah rivalitas Inggris-Skotlandia yang terkenal panas, justru momen Piala Dunia mampu menciptakan ikatan antarbangsa yang langka. Pertanyaannya, ketika Indonesia kelak menjadi tuan rumah ajang serupa, mampukah kita meniru Boston dalam menyambut tamu dengan tangan terbuka, tanpa prasangka? Atau justru sebaliknya, kita akan belajar dari Skotlandia tentang bagaimana menjadi tamu yang diingat selamanya?



