Dua Peserta Program Kopdes Merah Putih Tewas saat Latihan Militer, Kemhan Lakukan Evaluasi
Baca dalam 60 detik
- Dua peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meninggal saat mengikuti Latihan Dasar Militer di dua lokasi berbeda pada Juni 2026.
- Penyebab kematian adalah heat stroke dan henti jantung; keduanya telah dinyatakan lolos seleksi kesehatan sebelum program dimulai.
- Kementerian Pertahanan bersama TNI tengah mengevaluasi seluruh aspek penyelenggaraan program, termasuk prosedur medis dan pengawasan.

Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengonfirmasi dua peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meninggal dunia saat menjalani Latihan Dasar Militer (Latsarmil) di satuan pendidikan TNI pada pertengahan Juni 2026. Peristiwa ini memicu evaluasi menyeluruh terhadap prosedur keselamatan program yang menyasar pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih.
Korban pertama, Anisa Muyassaroh, mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni saat mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman Balikpapan. Setelah mendapat penanganan awal di fasilitas kesehatan satuan, ia dirujuk ke rumah sakit namun dinyatakan meninggal akibat heat stroke. Sementara itu, Yonanda Muhammad Taufiq meninggal pada 17 Juni di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja karena cardiac arrest (henti jantung). Keduanya telah melalui pemeriksaan kesehatan dan dinyatakan memenuhi syarat sebelum program dimulai, menurut keterangan resmi Kemhan.
Kepala Biro Informasi dan Humas Setjen Kemhan, Brigjen Rico Ricardo Sirait, menyampaikan duka cita mendalam dan menegaskan bahwa keselamatan peserta adalah prioritas utama. "Setiap masukan, evaluasi, dan pembelajaran dari pelaksanaan kegiatan akan menjadi dasar penyempurnaan program ke depan agar berlangsung semakin baik, aman, profesional, dan akuntabel," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (23/6).
Program SPPI sendiri merupakan inisiatif pemerintah untuk menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki disiplin, integritas, dan kemampuan manajerial guna mendukung pembangunan nasional melalui koperasi desa dan kampung nelayan. Peserta mengikuti Latsarmil secara sukarela setelah melalui seleksi ketat. Namun, dua kematian ini menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan fasilitas medis dan prosedur penanganan darurat di lapangan.
Kemhan bersama Panitia Seleksi Nasional dan penyelenggara pendidikan saat ini tengah mengevaluasi seluruh aspek program, termasuk mekanisme seleksi kesehatan, pengawasan medis, penanganan peserta dengan kondisi kesehatan khusus, serta sistem komunikasi dan pelaporan. Langkah ini diharapkan dapat mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.
Ke depan, publik akan mengawasi apakah hasil evaluasi ini akan mengubah protokol latihan atau bahkan memperketat syarat kesehatan bagi calon peserta. Pertanyaan mendasar yang mengemuka: sejauh mana kesiapan sistem pendukung kesehatan dalam program yang mengombinasikan pelatihan militer dengan misi pembangunan desa?



