EA PHK Lagi Jelang Akuisisi Arab Saudi: Gelombang Ketiga di 2026
Baca dalam 60 detik
- Electronic Arts kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menargetkan divisi non-pengembangan game, seperti rekrutmen dan dukungan pelanggan.
- Langkah ini terjadi di tengah proses akuisisi EA oleh konsorsium investor yang dikuasai Arab Saudi, yang telah menguasai 93,4% saham perusahaan.
- PHK ini merupakan gelombang ketiga pada 2026, melanjutkan tren pengurangan tenaga kerja yang telah berlangsung sejak 2023.

Electronic Arts (EA) kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran, kali ini menyasar divisi yang tidak terkait langsung dengan pengembangan gim. Langkah ini diambil di tengah proses akuisisi perusahaan oleh konsorsium investor yang didominasi oleh Arab Saudi, yang telah menguasai 93,4% saham EA.
Menurut memo internal yang diperoleh Kotaku, PHK kali ini terutama berdampak pada tim rekrutmen, layanan pelanggan (Fan Care), tim kepercayaan dan keamanan, serta sejumlah departemen teknologi informasi. Jumlah pasti karyawan yang terkena dampak tidak diungkapkan, namun laporan menyebutkan bahwa pekerja jarak jauh di Amerika Serikat dan karyawan di kantor EA di Hyderabad, India, termasuk yang terkena. Beberapa dari mereka telah bekerja selama lebih dari sepuluh tahun.
EA membenarkan langkah ini sebagai bagian dari restrukturisasi untuk menyesuaikan organisasi dengan kebutuhan pemain yang terus berkembang. Perusahaan berencana memodifikasi sejumlah posisi, menciptakan peran baru, dan mengalihkan beberapa aktivitas ke tim, lokasi, atau mitra eksternal lainnya. Namun, keputusan ini tetap menuai kritik karena dianggap mengorbankan karyawan yang telah lama mengabdi.
Bagi industri gim global, PHK di EA bukanlah hal baru. Perusahaan ini telah melakukan pengurangan tenaga kerja secara bertahap sejak 2023, dengan ratusan karyawan diberhentikan setiap tahunnya. Gelombang PHK terbaru ini menandai setidaknya gelombang ketiga pada 2026 saja, menunjukkan bahwa tekanan efisiensi masih tinggi meskipun pendapatan perusahaan relatif stabil.
Di Indonesia, langkah EA ini menjadi pengingat akan dinamika industri gim yang semakin terpusat dan rentan terhadap perubahan strategi korporasi. Meskipun dampak langsung terhadap pasar Indonesia mungkin terbatas, para pengamat menilai bahwa akuisisi oleh Arab Saudi dapat mengubah arah pengembangan gim EA di masa depan, termasuk potensi fokus pada pasar Timur Tengah dan Asia. Hal ini bisa berdampak pada ketersediaan gim EA di Indonesia atau perubahan model bisnis yang memengaruhi konsumen lokal.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah akuisisi oleh Arab Saudi akan membawa stabilitas atau justru mempercepat restrukturisasi di EA. Dengan kepemilikan saham yang hampir mutlak, investor baru memiliki kendali penuh atas arah perusahaan. Apakah ini akan berarti lebih banyak PHK atau justru investasi baru untuk pertumbuhan? Hanya waktu yang akan menjawab, namun para karyawan dan pengamat industri tetap waspada.



