WIKA Kebut Proyek Tol Semarang-Demak Seksi 1B: 81% Rampung, Target 2027
Baca dalam 60 detik
- Progres pembangunan Tol Semarang-Demak Seksi 1B oleh WIKA telah mencapai 81,19% per Juni 2026, dengan target operasional April 2027.
- Proyek ini mengusung fungsi ganda sebagai jalur transportasi dan tanggul laut untuk mitigasi rob di pesisir Semarang.
- Metode konstruksi khusus seperti cerucuk bambu dan PVD diterapkan untuk mengatasi tanah lunak, menyerap hingga 750 tenaga kerja lokal.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) mempercepat penyelesaian Jalan Tol Semarang-Demak Seksi 1B, yang hingga Juni 2026 telah mencapai progres 81,19% dan ditargetkan beroperasi penuh pada April 2027. Proyek ini tidak hanya menjadi tulang punggung konektivitas Pantura, tetapi juga dirancang sebagai infrastruktur pengendali banjir rob yang selama ini menggenangi kawasan pesisir Semarang.
Corporate Secretary WIKA, Ngatemin, menyatakan bahwa proyek ini merupakan wujud komitmen perseroan dalam menghadirkan infrastruktur yang menjawab kebutuhan mobilitas sekaligus melindungi masyarakat pesisir. "Tol Semarang-Demak Seksi 1B merupakan proyek strategis yang memiliki manfaat ganda, baik sebagai jalur konektivitas utama di Pantura maupun sebagai infrastruktur pengendali rob," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (23/6/2026).
Lingkup pekerjaan yang telah diselesaikan meliputi Ramp On, Ramp Off, Main Bridge, dan Combi Wall. Saat ini, WIKA masih mengerjakan timbunan selected material top layer sebagai preloading sea dike. Tantangan konstruksi utama adalah tanah lunak (soft soil) dan lokasi yang berbatasan langsung dengan laut. Untuk mengatasinya, WIKA menerapkan metode cerucuk bambu dan matras bambu sebelum material timbunan digelar, serta teknologi Prefabricated Vertical Drain (PVD) untuk mempercepat konsolidasi tanah. Proses timbunan dilakukan bertahap dengan masa tunggu 55 hari per stage (stage 1-5) dan 150 hari pada stage 6, guna memastikan kepadatan sesuai desain.
Dari sisi mitigasi rob, tanggul laut dibangun dengan elevasi di atas muka air tertinggi dan dilengkapi revetment pada sisi laut. Sistem ini bersinergi dengan kolam retensi di sisi darat untuk mengendalikan ketinggian muka air saat pasang. Dengan demikian, kawasan pesisir Semarang diharapkan terlindungi dari genangan rob yang selama ini merusak jalan Pantura dan pemukiman warga.
Proyek ini juga memberikan dampak ekonomi langsung. Pada puncak pekerjaan matras bambu, sekitar 750 tenaga kerja terserap, dengan 200 di antaranya berasal dari warga lokal. Pekerjaan manual penyusunan matras bambu menggunakan ikatan tali nilon menjadi salah satu kegiatan yang membutuhkan keterampilan spesifik.
Setelah beroperasi, Tol Semarang-Demak Seksi 1B diharapkan mengurai kemacetan di jalur Pantura, khususnya ruas Semarang-Terboyo-Demak, serta memperkuat integrasi Jalan Tol Trans Jawa. Pertanyaan yang masih tersisa adalah sejauh mana efektivitas tanggul laut ini dalam jangka panjang menghadapi kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim, mengingat Semarang termasuk salah satu kota dengan laju penurunan tanah tercepat di dunia.



