Elliot Anderson: Dari Sekolah ke Panggung Piala Dunia, Gelandang Termahal Inggris?
Baca dalam 60 detik
- Elliot Anderson, gelandang Nottingham Forest, menjadi andalan Thomas Tuchel di Piala Dunia 2026 setelah memilih Inggris daripada Skotlandia.
- Manchester City dikabarkan siap membayar lebih dari £125 juta untuk Anderson, yang bisa memecahkan rekor transfer pemain Inggris.
- Perjalanan Anderson dari Wallsend Boys' Club hingga ke panggung dunia menunjukkan kerja keras dan bakat alami yang diakui para pelatih.

Elliot Anderson, gelandang muda Nottingham Forest yang kini menjadi pilar utama dalam skema pelatih Thomas Tuchel untuk Piala Dunia 2026, tengah bersiap menghadapi Ghana dalam laga uji coba di Boston, Selasa (10/6). Namun, di balik sorotan lapangan, namanya juga santer dikaitkan dengan transfer termahal dalam sejarah sepak bola Inggris—nilai yang bisa menembus rekor £125 juta milik Alexander Isak.
Anderson, 23 tahun, adalah produk asli akademi Newcastle United yang terpaksa dilepas ke Forest pada Juli 2024 seharga £30 juta. Manajer Newcastle Eddie Howe menyebutnya sebagai "penjualan paling berat dalam karier saya", karena klub terdesak aturan Profit and Sustainability (PSR) yang mengancam pengurangan poin. Kini, Manchester City dikabarkan telah mengajukan tawaran sekitar £120 juta yang ditolak Forest, dan negosiasi masih berlangsung untuk angka yang lebih tinggi.
Statistik Anderson musim lalu menjadi bukti nilainya: ia memegang rekor sentuhan terbanyak di Premier League (3.300), memenangkan penguasaan bola 306 kali, memenangkan duel 297 kali, dan dilanggar 80 kali—semua tertinggi di liga. Tuchel menyebutnya sebagai "paket lengkap" dan telah memasukkannya dalam rencana inti untuk Piala Dunia.
Perjalanan Anderson tidak instan. Ia memulai karier di Valley Gardens Middle School, kemudian bergabung dengan Wallsend Boys' Club—tempat yang sama melahirkan Alan Shearer dan Peter Beardsley. Guru bahasa Inggris dan olahraganya, Jonathan Roys, mengingat bahwa para guru sempat bercanda ingin bertaruh bahwa Anderson akan bermain untuk Inggris. "Dia pemain yang menonjol meski tidak bertubuh besar. Dia bisa bermain di posisi apa pun, bahkan pernah menjadi kiper saat melawan Wallsend," kenang Roys.
Pinjaman ke Bristol Rovers pada 2022 menjadi titik balik. Mantan pemain internasional Irlandia Glenn Whelan, yang saat itu menjadi pemain-pelatih, mengatakan Anderson langsung menunjukkan potensi tanpa rasa gentar. "Dalam latihan, saya sengaja memberi tekanan padanya. Anak lain mungkin mundur, tapi Elliot justru maju. Dia mengambil alih situasi," ujar Whelan. Puncaknya terjadi pada laga pamungkas musim 2021/22, ketika Bristol Rovers menang 7-0 atas Scunthorpe untuk promosi ke League One—Anderson mencetak gol penutup dan diusung keluar lapangan oleh suporter.
Bagi Indonesia, kisah Anderson menjadi cermin bagaimana pembinaan usia dini dan lingkungan akademi yang baik dapat melahirkan bakat kelas dunia. Di tengah gencarnya pengembangan sepak bola nasional, perhatian terhadap aturan finansial klub—mirip PSR—juga relevan untuk menjaga keseimbangan kompetisi. Jika Anderson benar-benar menjadi pemain termahal Inggris, itu akan menjadi sinyal bahwa investasi pada pemain muda lokal masih menjadi jalan paling efektif menuju kesuksesan.
Pertanyaan besarnya: akankah Manchester City menyetujui nilai transfer di atas £125 juta, atau adakah klub lain yang siap menyaingi? Dengan Piala Dunia yang tinggal menghitung bulan, performa Anderson di laga uji coba melawan Ghana akan menjadi panggung untuk membuktikan bahwa ia layak menjadi bintang masa depan.



