Liga Inggris Tanpa Sponsor Judi: Era Baru Sponsor Teknologi dan AI
Baca dalam 60 detik
- Larangan sponsor judi di Liga Inggris mulai musim ini, memaksa delapan klub mencari pengganti.
- Sektor teknologi dan keuangan kini mendominasi, dengan nilai kesepakatan yang melonjak drastis.
- Perubahan ini berpotensi mempengaruhi strategi komersial klub dan regulasi di liga lain, termasuk Indonesia.

Liga Premier Inggris memasuki musim baru dengan wajah berbeda: untuk pertama kalinya dalam dua dekade, tidak ada lagi logo perusahaan judi di bagian depan kostum klub. Keputusan yang diambil secara sukarela oleh 20 klub musim lalu ini menandai berakhirnya era yang dimulai pada 2005, ketika Aturan Perjudian memberi ruang bagi operator taruhan untuk beriklan di seragam. Kini, klub-klub harus beradaptasi dengan lanskap sponsor yang berubah cepat, di mana perusahaan teknologi dan AI mulai mengambil alih.
Musim panas ini, delapan klub harus mencari sponsor utama baru karena larangan tersebut. Nottingham Forest dan Sunderland masih belum menemukan pengganti, sementara Chelsea yang baru sebentar memiliki sponsor di dada jersey juga masih bernegosiasi. Menurut Kieran Maguire, profesor keuangan sepak bola di Universitas Liverpool, kesulitan ini tidak hanya karena berkurangnya pasokan sponsor, tetapi juga karena ekspektasi klub yang terlalu tinggi. "Klub menilai nilai mereka lebih tinggi daripada yang ditawarkan sponsor," ujarnya, seraya menambahkan bahwa Chelsea ingin kesepakatan jangka panjang yang sepadan dengan status juara Piala Dunia Antarklub FIFA.
Pergeseran sektor sponsor terlihat jelas. Crystal Palace dan Fulham kini bekerja sama dengan perusahaan AI, masing-masing Temporal dan ClickHouse, sementara Ipswich dan Manchester United juga memiliki sponsor teknologi. Sektor keuangan menjadi yang terdepan dengan lima klub, termasuk Everton yang menggandeng CMC Markets. Nilai kesepakatan pun meroket: pendapatan komersial klub naik hampir 4.000 persen dari ยฃ58 juta menjadi ยฃ2,4 miliar pada 2024-25. Namun, kesenjangan antara klub besar dan kecil tetap lebar; Manchester United dilaporkan mendapat ยฃ60 juta per tahun dari Snapdragon, sementara klub promosi mungkin hanya mendapat ยฃ5-6 juta.
Fenomena ini bukan hal baru. Sejak 1979, ketika Everton menjadi klub pertama dengan sponsor di dada (Hafnia, perusahaan daging Denmark), sponsor telah berevolusi dari perusahaan elektronik Jepang seperti JVC dan Sharp, lalu ke merek alkohol pada 1990-an, dan akhirnya judi setelah 2005. Kini, dengan larangan judi, klub-klub mencari sektor baru. Namun, tidak semua klub sepenuhnya meninggalkan judi: Bournemouth masih memiliki sponsor kasino di lengan, dan beberapa klub memindahkan logo judi ke bagian lain seperti lengan atau celana. Hanya lima klub yang mengonfirmasi tidak ada logo judi sama sekali di pakaian mereka.
Bagi Indonesia, perubahan ini menjadi pelajaran penting. Liga 1 dan Liga 2 masih banyak mengandalkan sponsor judi online, yang kerap menjadi kontroversi. Regulasi yang lebih ketat di Inggris bisa menjadi contoh bagi PSSI untuk membatasi sponsor semacam itu, meski dampaknya pada pendapatan klub perlu diantisipasi. Di sisi lain, tren sponsor teknologi dan AI membuka peluang bagi perusahaan Indonesia untuk masuk ke pasar global, sekaligus menunjukkan bahwa sepak bola bisa menjadi etalase inovasi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah larangan ini akan mendorong klub untuk lebih kreatif dalam mencari sponsor, atau justru memperlebar kesenjangan antara klub kaya dan miskin. Dengan semakin banyaknya perusahaan kripto yang melirik lengan jersey, seperti BingX di Chelsea dan OKX di Manchester City, regulator seperti Financial Conduct Authority sudah mengingatkan tentang risiko kerja sama dengan perusahaan yang tidak terotorisasi. Akankah era berikutnya dihiasi logo bursa kripto, atau justru memunculkan regulasi baru?



