Misteri Kematian Atlet: Eks Pelatih Basket Ateneo Akhirnya Hadapi Penyidik
Baca dalam 60 detik
- Tab Baldwin, mantan pelatih kepala basket Universitas Ateneo, memenuhi panggilan NBI setelah dua kali mangkir dari pemeriksaan kematian dua mahasiswa-atlet.
- Kematian Rene Baterbonia dan Divine Adili akibat tenggelam saat kegiatan tim di Aurora memicu penyelidikan ganda oleh NBI dan PNP.
- NBI berencana menyelesaikan penyelidikan pekan ini, dengan membandingkan pernyataan Baldwin yang diberikan kepada dua lembaga berbeda.

Mantan pelatih kepala tim basket putra Universitas Ateneo de Manila, Tab Baldwin, akhirnya memenuhi panggilan penyidik pada Selasa (23/6) setelah dua kali absen dalam pemeriksaan terkait kematian dua mahasiswa-atlet, Rene Baterbonia dan Divine Adili. Keduanya ditemukan tewas tenggelam saat mengikuti kegiatan tim di Dipaculao, Aurora, awal bulan ini.
Baldwin tiba di kantor Divisi Pembunuhan Biro Investigasi Nasional (NBI) sekitar pukul 13.45 waktu setempat didampingi kuasa hukumnya, Karl David. Kehadirannya kali ini menjadi sorotan karena sebelumnya ia mangkir dari panggilan pada 16 Juni dengan alasan kondisi kesehatan yang tidak prima—kuasa hukumnya yang hadir saat itu menyampaikan bahwa Baldwin “tidak dalam kondisi baik.”
Ketidakhadiran kedua terjadi pada 19 Juni, saat Baldwin justru memenuhi panggilan Kepolisian Nasional Filipina–Grup Investigasi dan Deteksi Kriminal (CIDG) di hari yang sama. Langkah ini menimbulkan pertanyaan mengenai koordinasi antara dua lembaga penegak hukum yang tengah menyelidiki kasus yang sama. NBI dan PNP sama-sama mendalami peristiwa tenggelamnya Baterbonia dan Adili, yang merupakan anggota skuad basket Ateneo.
Direktur NBI Melvin Matibag sebelumnya menyatakan akan membandingkan keterangan yang diberikan Baldwin kepada NBI dengan kesaksiannya di hadapan CIDG pekan lalu. Langkah ini dinilai krusial untuk mendeteksi potensi inkonsistensi yang dapat mengungkap fakta baru. “Kami akan mencocokkan kedua pernyataan untuk memastikan tidak ada celah,” ujar Matibag, seperti dikutip media setempat.
Bagi publik Filipina, kasus ini menyentuh isu keamanan dan tanggung jawab institusi pendidikan terhadap mahasiswa-atlet. Ateneo de Manila, salah satu universitas paling prestisius di Filipina, kini menghadapi tekanan untuk menjelaskan prosedur keselamatan dalam kegiatan tim. Di Indonesia, kasus serupa pernah terjadi dan memicu evaluasi standar operasional kegiatan olahraga di perguruan tinggi. Pengamat olahraga menilai bahwa insiden seperti ini harus menjadi momentum bagi institusi untuk memperketat pengawasan, terutama pada aktivitas di luar kampus yang melibatkan air.
NBI menargetkan penyelidikan selesai pekan ini. Pertanyaan yang masih mengemuka: apakah ada kelalaian prosedur atau faktor lain yang menyebabkan dua nyawa melayang? Jawabannya akan menentukan tidak hanya nasib Baldwin, tetapi juga masa depan kebijakan keamanan olahraga di Filipina.



