Cemburu Buta Berujung Teror: Bom Molotov Salah Sasaran di Jakut, Ibu dan Anak Jadi Korban
Baca dalam 60 detik
- Polisi mengungkap pelemparan bom molotov di Koja, Jakarta Utara, dipicu kecemburuan pelaku terhadap mantan istri yang memiliki kekasih baru.
- Sasaran aksi teror adalah keluarga kekasih baru mantan istri, namun bom molotov meleset dan mengenai seorang ibu yang tengah membonceng anak.
- Empat pelaku telah diidentifikasi, satu di antaranya eksekutor; polisi masih memburu mereka dan menyelidiki motif lebih lanjut.

Seorang ibu yang tengah membonceng anaknya nyaris menjadi korban keganasan bom molotov di Koja, Jakarta Utara, setelah aksi teror yang didalangi oleh seorang pria cemburu justru salah sasaran. Peristiwa yang terekam kamera pengawas dan viral di media sosial ini mengungkap motif asmara yang berujung pada tindakan nekat.
Kapolsek Koja Kompol Andry Suharto mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengidentifikasi empat orang yang terlibat dalam pelemparan molotov tersebut. Salah satu pelaku, berinisial M, diduga menjadi otak di balik aksi ini. M disebut tidak terima mengetahui mantan istrinya, R, memiliki kekasih baru bernama U. Alih-alih menargetkan U secara langsung, M justru meluapkan amarahnya kepada keluarga U.
"Cemburunya lucu, nyasar ke keluarganya U. Di video itu ada orang yang duduk megang HP, nah itu pamannya U, inisial K," kata Andry saat dihubungi, Selasa (23/6). Pelaku diduga menargetkan K, namun bom molotov yang dilempar meleset dan jatuh ke jalan, tepat saat seorang ibu dan anaknya melintas dengan sepeda motor.
Beruntung, ibu dan anak tersebut selamat tanpa luka fisik. Namun, bagian dashboard sepeda motor mereka hangus terbakar akibat percikan api. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto membenarkan bahwa korban sedang dalam perjalanan menuju pasar ketika insiden terjadi sekitar pukul 09.00 WIB di Jalan Mandiri II, Kelurahan Rawa Badak Selatan.
Polisi masih memburu para pelaku yang saat ini belum ditangkap. Andry menyebutkan bahwa M datang bersama tiga rekannya, namun hanya M yang melempar molotov. Barang bukti berupa pecahan botol telah diamankan dari tempat kejadian. Kasus ini menjadi pengingat betapa bahayanya tindakan main hakim sendiri yang dipicu oleh persoalan pribadi, apalagi hingga melibatkan senjata rakitan seperti bom molotov.
Konteks Indonesia: Aksi teror berbasis cemburu asmara bukanlah hal baru, namun penggunaan bom molotov di ruang publik menunjukkan eskalasi keberanian pelaku. Masyarakat diimbau untuk tidak menyelesaikan masalah pribadi dengan kekerasan, dan segera melapor ke pihak berwajib jika mengalami ancaman serupa. Polisi pun diharapkan dapat menangkap pelaku sebelum aksi serupa terulang.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah polisi mampu mengungkap jaringan pelaku dan mencegah aksi teror serupa? Dengan bukti CCTV yang jelas, publik menantikan penangkapan segera dan proses hukum yang transparan.



