Kereta Cepat China-Laos Mulai Angkut Barang dan Bagasi: Lompatan Logistik Regional
Baca dalam 60 detik
- Layanan bagasi dan paket reguler resmi beroperasi di jalur Laos-China Railway, menggantikan model campuran penumpang dan barang.
- Penambahan gerbong khusus meningkatkan kapasitas angkut lebih dari dua kali lipat, menjawab lonjakan permintaan logistik.
- Inisiatif ini memperkuat konektivitas darat ASEAN-China, membuka peluang bagi ekspor Indonesia melalui jalur kereta trans-Asia.

Pada 22 Juni lalu pukul 08.25 waktu setempat, kereta penumpang reguler K12 yang telah direorganisasi dengan tambahan gerbong bagasi meninggalkan Stasiun Vientiane, Laos. Momen ini menandai dimulainya layanan angkutan bagasi dan paket secara reguler di seksi Laos dari jalur kereta api China-Laos.
Langkah tersebut mengakhiri era model "angkutan campuran penumpang dan barang" yang selama ini diterapkan. Sebelumnya, pengiriman bagasi dan paket hanya mengandalkan kursi kosong di kereta penumpang K11 dan K12. Metode itu dinilai tidak mampu memenuhi permintaan yang terus meningkat dan justru mengganggu kenyamanan penumpang.
Laos-China Railway Co. Ltd. (LCRC), operator seksi Laos, mengoordinasikan penambahan gerbong bagasi khusus untuk operasi reguler. Hasilnya, kapasitas angkut bagasi dan paket di dalam negeri Laos meningkat lebih dari dua kali lipat. Layanan ini akan mencakup stasiun-stasiun utama di sepanjang jalur Laos, dengan pemantauan ketat sesuai regulasi perkeretaapian.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Jalur kereta China-Laos merupakan bagian dari koridor kereta trans-Asia yang menghubungkan China dengan Asia Tenggara. Dengan meningkatnya kapasitas logistik di Laos, barang-barang dari Indonesia yang masuk melalui pelabuhan Thailand atau Malaysia dapat lebih cepat didistribusikan ke China daratan. Peluang ini dapat dimanfaatkan oleh eksportir Indonesia, terutama untuk produk pertanian dan manufaktur.
Menurut pengamat logistik regional, langkah LCRC menunjukkan komitmen untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok. "Dengan adanya gerbong bagasi khusus, waktu pengiriman bisa lebih terprediksi dan volume lebih besar," ujarnya. Hal ini juga mengurangi tekanan pada kursi penumpang yang sebelumnya digunakan untuk bagasi.
Ke depan, LCRC berencana memperluas layanan ini ke stasiun-stasiun lain dan meningkatkan frekuensi. Pertanyaannya, apakah negara-negara ASEAN lain, termasuk Indonesia, akan mengikuti model serupa untuk mengoptimalkan jalur kereta yang ada? Integrasi logistik regional tampaknya menjadi kunci daya saing di era perdagangan bebas.



