Zelenskyy: Rusia Pindahkan Ratusan Sistem Pertahanan Udara ke Moskow, Wilayah Lain Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Ukraina mengklaim Rusia memindahkan hampir 90 peluncur rudal pertahanan udara ke Valdai dan ratusan lainnya ke Moskow, meninggalkan celah pertahanan di wilayah lain.
- Serangan drone Ukraina yang semakin canggih berhasil mencapai target sejauh 1.500 km, termasuk kilang minyak di Ufa dan depot di Krasnodar, mengganggu logistik militer Rusia.
- Belarus mematikan repeater sinyal yang digunakan Rusia untuk memandu drone, namun tetap membangun infrastruktur militer di perbatasan, meningkatkan kewaspadaan Ukraina.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan bahwa Rusia tengah memusatkan sebagian besar sistem pertahanan udaranya untuk melindungi sejumlah titik vital, termasuk Moskow dan kediaman pribadi Vladimir Putin di Valdai, sebagai respons terhadap gempuran drone jarak jauh Ukraina yang kian agresif. Langkah ini, menurut Zelenskyy, justru membuat wilayah lain di Rusia semakin rentan terhadap serangan.
Dalam pidato rutinnya, Zelenskyy menyebutkan bahwa di kawasan Moskow saja, Rusia telah mengerahkan "ratusan peluncur" rudal pertahanan udara. Sementara itu, hampir 90 peluncur dipindahkan dari berbagai daerah ke Valdai, sebuah kota sekitar 500 kilometer barat laut Moskow yang juga menjadi lokasi kediaman presiden Rusia. Klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen, namun menggambarkan prioritas Kremlin yang lebih mementingkan perlindungan elit daripada keamanan wilayah lain.
Ukraina sendiri terus mengintensifkan kampanye udaranya. Dalam serangan terbaru, drone Kyiv berhasil menghantam dua kilang minyak di Ufa, 1.500 kilometer dari garis depan, serta sebuah depot minyak di Krasnodar. Keberhasilan ini tidak hanya menyebabkan kelangkaan bahan bakar di Rusia, tetapi juga mengganggu jalur pasokan militer, memperlambat laju invasi yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.
Zelenskyy menegaskan bahwa operasi ini, termasuk yang menargetkan Krimea, telah direncanakan secara matang. Ia optimistis jika bantuan dari mitra internasional—seperti yang dibahas dalam KTT G7—terealisasi, Ukraina dapat menciptakan kondisi yang memaksa Rusia memilih perdamaian. Namun, ia juga mengakui bahwa keputusan akhir ada di tangan para mitra.
Sementara itu, situasi di perbatasan utara Ukraina turut memanas. Belarus, yang selama ini menjadi sekutu Rusia, disebut telah mematikan repeater sinyal yang digunakan untuk memandu serangan drone Rusia. Meski demikian, Zelenskyy melaporkan bahwa Belarus masih membangun infrastruktur jalan dan fasilitas penyimpanan amunisi di sepanjang perbatasan, yang dinilai tidak memiliki tujuan lain selain militer. Presiden Belarus Alexander Lukashenko, di sisi lain, memperingatkan Ukraina agar tidak menggunakan kekerasan, sembari menyatakan akan "berdiri bersama Rusia" jika terjadi konflik langsung.
Di tengah ketegangan ini, Ukraina memerintahkan evakuasi wajib bagi sekitar 1.000 warga di wilayah Chernihiv yang berbatasan dengan Rusia dan Belarus, mulai 1 Juli. Militer Ukraina juga memperkuat pertahanan perbatasan utara dengan membentuk unit drone baru. Di sisi lain, Rusia terus melancarkan serangan balasan. Dalam semalam, Rusia meluncurkan satu rudal balistik dan 90 drone jarak jauh ke Ukraina. Salah satu drone menghantam stasiun pengisian bahan bakar di Sumy, melukai empat orang. Militer Rusia mengklaim telah menembak jatuh 269 drone Ukraina dalam periode yang sama.
Pertanyaan besarnya kini: akankah konsentrasi pertahanan udara Rusia di titik-titik strategis justru menjadi celah yang dieksploitasi Ukraina untuk melancarkan serangan lebih dalam? Ataukah langkah ini akan memaksa Moskow untuk duduk dalam negosiasi damai yang selama ini ditolak Putin?



