Rupiah Tembus Rp17.850 per Dolar AS, Sentimen Suku Bunga The Fed dan Panda Bond Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Rupiah dibuka melemah 0,14% ke Rp17.850/US$ pada Selasa (23/6/2026) seiring indeks dolar AS yang menguat tipis ke 101,040.
- Kekhawatiran suku bunga tinggi The Fed yang berkepanjangan menjadi pendorong utama penguatan dolar, meski negosiasi AS-Iran sedikit meredam tekanan.
- Pemerintah mengandalkan penerbitan Panda Bond berbasis yuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar dan menstabilkan kurs rupiah.

Nilai tukar rupiah kembali terperosok ke level terendah baru, menyentuh Rp17.850 per dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Selasa (23/6/2026). Pelemahan ini melanjutkan tren negatif yang sudah berlangsung sejak awal pekan, dipicu oleh ekspektasi suku bunga tinggi di Negeri Paman Sam yang tak kunjung reda.
Berdasarkan data Refinitif, rupiah melemah 0,14% dari posisi penutupan Senin (22/6/2026) yang sudah merosot 0,28% ke Rp17.825/US$. Indeks dolar AS (DXY) pagi ini tercatat menguat tipis 0,02% ke level 101,040, melanjutkan kenaikan 0,17% pada hari sebelumnya. Penguatan greenback ini menekan hampir seluruh mata uang Asia, termasuk rupiah yang paling rentan terhadap arus modal asing.
Di pasar global, dolar AS perkasa karena pasar masih mencerna keputusan The Fed yang mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%. Lebih dari itu, proyeksi dot plot terbaru mengindikasikan bahwa suku bunga tinggi bisa bertahan lebih lama dari perkiraan awal. Sebagian anggota The Fed bahkan masih membuka peluang kenaikan suku bunga pada rapat mendatang, sebuah sinyal hawkish yang membuat investor kembali memborong dolar.
Namun, penguatan dolar sedikit tertahan oleh perkembangan positif dalam perundingan AS-Iran di Swiss. Kedua negara dilaporkan mencapai kesepakatan awal berupa memorandum of understanding 14 poin, termasuk gencatan senjata 60 hari. Sebagai bagian dari kesepakatan, AS mencabut blokade laut terhadap Iran, sementara Iran kembali membuka Selat Hormuz. Langkah ini meredakan kekhawatiran pasokan minyak global, mendorong harga minyak turun, dan secara tidak langsung mengurangi tekanan inflasi yang selama ini mendorong penguatan dolar.
Dari sisi domestik, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan strategi pemerintah untuk memperkuat rupiah melalui penerbitan Panda Bond. Dalam rapat kerja dengan Komite IV DPD RI, Senin (22/6/2026), Purbaya menegaskan bahwa penerbitan obligasi dalam mata uang yuan ini akan menggunakan skema Local Currency Transaction (LCT). Artinya, transaksi dilakukan langsung dalam yuan tanpa perlu konversi ke dolar AS, sehingga mengurangi tekanan terhadap rupiah. "Saya terima rupiah, jadi saya tidak terpengaruh fluktuasi atau tekanan dari dolar," ujarnya.
Purbaya menambahkan, Panda Bond merupakan bagian dari diversifikasi surat utang pemerintah yang selama ini terlalu bergantung pada dolar. Dengan beralih ke basis yuan, Indonesia bisa memanfaatkan kesepakatan bilateral swap agreement dengan China yang sudah ada. "Jangan dolar base saja, tapi ke yuan base... tekanan ke rupiah akan melemah secara signifikan," paparnya. Langkah ini dinilai strategis di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi perekonomian nasional.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada sikap The Fed dalam rapat berikutnya serta perkembangan negosiasi AS-Iran. Jika suku bunga AS benar-benar naik lagi, rupiah berpotensi tertekan lebih dalam. Namun, jika kesepakatan damai di Timur Tengah membuahkan hasil nyata, tekanan terhadap dolar bisa mereda. Pertanyaannya, mampukah Panda Bond menjadi bantalan yang cukup untuk menahan gempuran dolar di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi?



