Tekanan Jual Asing Mereda, IHSG Bangkit 1,96%
Baca dalam 60 detik
- Investor asing hanya mencatat net sell Rp 299 miliar pada Kamis (25/6), turun drastis dari Rp 1,17 triliun sehari sebelumnya.
- Saham NATO, DSSA, dan TPIA menjadi primadona dengan net foreign buy masing-masing di atas Rp 64 miliar.
- IHSG berhasil rebound 1,96% ke 5.999,04 meski transaksi masih sepi, menandakan kepercayaan mulai pulih.

Tekanan jual investor asing di pasar saham Indonesia mulai mereda. Pada perdagangan Kamis (25/6/2026), aksi jual bersih (net foreign sell) hanya tercatat Rp 299 miliar, jauh lebih kecil dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai Rp 1,17 triliun. Peredaan ini mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bangkit 1,96% ke level 5.999,04, setelah sempat terpuruk 3,56% pada Rabu.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, asing mencatat transaksi jual Rp 6,04 triliun dan beli Rp 5,74 triliun. Meskipun masih net sell, angkanya menyusut signifikan dari Rp 1,17 triliun yang dipicu oleh pengumuman MSCI Market Classification Review. Pelaku pasar domestik disebut menjadi motor penggerak kebangkitan IHSG dengan aksi beli agresif.
Di tengah tekanan yang mereda, sejumlah saham justru diborong asing. PT Surya Timur Alam Raya Tbk (NATO) memimpin daftar net foreign buy dengan nilai Rp 84,7 miliar. Disusul PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar Rp 80,7 miliar, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) Rp 64,7 miliar. Saham PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) dan PT Astra International Tbk (ASII) juga masuk dalam lima besar dengan net buy masing-masing Rp 59,2 miliar dan Rp 53,6 miliar.
Menurut analis pasar modal, meredanya net sell asing merupakan sinyal awal stabilisasi. Namun, volume transaksi yang masih rendah—hanya Rp 13,65 triliun dengan 22,58 miliar saham—menunjukkan bahwa partisipasi pasar belum sepenuhnya pulih. Investor masih menunggu katalis lebih lanjut, baik dari kebijakan domestik maupun sentimen global.
Bagi investor Indonesia, pergerakan ini menjadi pengingat pentingnya diversifikasi dan tidak panik saat terjadi aksi jual besar-besaran. Saham-saham yang diborong asing, seperti NATO dan DSSA, mencerminkan sektor yang masih diminati di tengah ketidakpastian. Ke depan, pasar akan mencermati rilis data ekonomi AS dan keputusan suku bunga The Fed yang bisa mempengaruhi aliran modal asing ke Indonesia.



