Wisatawan Mancanegara ke Kamboja Anjlok Hampir 50%, Ekonomi Tertekan
Baca dalam 60 detik
- Kamboja mencatat penurunan wisatawan internasional hingga 48% pada Januari-Mei 2026, menjadi 1,54 juta orang dari sebelumnya 2,95 juta.
- Tiongkok, Vietnam, dan Amerika Serikat masih menjadi pasar utama, namun perlambatan ekonomi regional serta konflik Timur Tengah disebut sebagai pemicu utama.
- Penurunan ini mengancam sektor pariwisata yang merupakan salah satu pilar ekonomi Kamboja, dan bisa menjadi pelajaran bagi negara tetangga seperti Indonesia.

Jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Kamboja pada lima bulan pertama tahun 2026 merosot tajam hingga 48 persen, hanya mencapai 1,54 juta orang. Angka ini jauh di bawah periode yang sama tahun lalu yang menembus 2,95 juta kunjungan, berdasarkan laporan Kementerian Pariwisata Kamboja yang dirilis Senin (22/6).
Penurunan drastis ini tidak hanya mengguncang sektor pariwisata, tetapi juga mengancam stabilitas ekonomi Kamboja yang sangat bergantung pada empat pilar utama: pariwisata, pertanian, konstruksi dan properti, serta ekspor garmen dan alas kaki. Dengan turunnya kunjungan wisatawan, pendapatan dari sektor ini dipastikan ikut terkontraksi.
Menurut data resmi, pada 2025 Kamboja menerima 5,57 juta wisatawan internasional dengan pendapatan kotor mencapai 3,87 miliar dolar AS. Namun, tren penurunan yang sudah terlihat sejak awal 2026 mengindikasikan bahwa target tahun ini sulit tercapai.
Thong Mengdavid, Wakil Direktur Pusat Studi Tiongkok-ASEAN di Universitas Teknologi dan Sains Kamboja, menilai bahwa penurunan ini merupakan akumulasi dari sejumlah faktor. Perlambatan ekonomi regional, maraknya kasus penipuan daring yang melibatkan warga asing, serta sengketa perbatasan dengan Thailand ikut menggerus minat wisatawan. βKonflik di Timur Tengah juga memperparah situasi karena mengganggu jadwal penerbangan dan mendongkrak harga bahan bakar,β ujarnya.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan kerentanan sektor pariwisata terhadap guncangan eksternal. Meskipun Indonesia tidak menghadapi masalah serupa secara langsung, perlambatan ekonomi global dan kenaikan harga energi bisa berdampak pada jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Tanah Air. Apalagi, Indonesia juga mengandalkan pariwisata sebagai salah satu sumber devisa utama.
Kamboja kini harus berupaya keras memulihkan kepercayaan wisatawan. Langkah-langkah seperti peningkatan keamanan, promosi destinasi alternatif, dan diplomasi dengan negara tetangga menjadi krusial. Namun, dengan kondisi global yang masih tidak menentu, pemulihan penuh diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama. Apakah Kamboja mampu bangkit kembali, atau justru akan kehilangan pangsa pasar wisatawan ke negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand?



