Chelsea Wajib Lepas 16 Pemain dalam 25 Hari: Ujian Berat Xabi Alonso di Tengah Krisis Skuad 41 Orang
Baca dalam 60 detik
- Chelsea memiliki 41 pemain senior dan harus memangkas skuad hingga 25 nama sebelum bursa transfer ditutup, dengan 16 pemain terancam hengkang.
- Larangan FIFA terhadap praktik 'bomb squad' dan absennya Chelsea dari kompetisi Eropa musim ini memaksa Alonso bergerak cepat untuk menjaga harmoni tim.
- Strategi belanja besar BlueCo sejak 2022 mencapai £1,8 miliar, namun pendapatan klub masih terendah di antara 'big six', menjadikan penjualan pemain sebagai kunci utama.

Lima belas hari menjelang penutupan bursa transfer, Chelsea masih bergulat dengan masalah klasik yang menghantui Stamford Bridge: skuad yang membengkak hingga 41 pemain senior. Pelatih anyar Xabi Alonso kini menghadapi tekanan besar untuk memangkas timnya menjadi 25 nama, sebuah misi yang menuntut keputusan berani dan cepat di tengah tur pramusim di Asia.
Ketidakhadiran Chelsea dari kompetisi Eropa musim depan—setelah finis di peringkat ke-10 musim lalu—menghilangkan alasan untuk mempertahankan pemain dalam jumlah besar. Alonso, yang baru tiba dengan reputasi memenangkan trofi, menyadari bahwa skuad yang terlalu gemuk hanya akan memicu ketidakpuasan di ruang ganti. Meski aturan 25 pemain Premier League tidak mengikat ketat karena banyak pemain berusia di bawah 21 tahun atau berstatus homegrown, masalahnya tetap nyata: 16 pemain harus dilepas sebelum 1 September.
FIFA telah melarang praktik 'bomb squad' yang dulu sering dilakukan Chelsea, seperti yang dialami Raheem Sterling dan Axel Disasi musim lalu. Kini, pemain yang tidak masuk rencana harus segera dicarikan klub baru, baik permanen maupun pinjaman. Situasi ini diperparah dengan fakta bahwa lima pemain—Benoit Badiashile, Axel Disasi, Marc Guiu, David Datro Fofana, dan Caleb Wiley—bahkan tidak berlatih dengan tim utama dan jelas-jelas masuk daftar jual.
Di tengah kekacauan ini, Chelsea sebenarnya sudah bergerak di bursa transfer. Kedatangan Morgan Rogers, Marco Palestra, Danny Welbeck, Jordan Henderson, dan Maxence Lacroix memperkuat skuad, sementara bek kiri Pep Chavarria dari Rayo Vallecano hampir dikonfirmasi dengan nilai £16,3 juta. Namun, jumlah pemain yang masuk tidak sebanding dengan yang harus keluar. Pada laga melawan Juventus di Hong Kong, Chelsea bahkan membawa 21 pemain pengganti, dan hanya lima di antaranya dari akademi—sebuah gambaran betapa tidak efisiennya komposisi tim saat ini.
Keputusan sulit menanti Alonso di setiap lini. Di lini belakang, ia memiliki sembilan bek tengah dan ingin menyisakan hanya empat atau lima. Disasi dan Badiashile dijual, sementara Mamadou Sarr dipinjamkan. Di lini tengah, Enzo Fernandez diberi label harga £120 juta dan tengah mengeksplorasi opsi pindah, meski klub juga terbuka mempertahankannya. Sementara itu, kembalinya Mykhailo Mudryk setelah 20 bulan absen akibat skorsing doping menambah daftar pemain yang harus dikelola. Di lini depan, Chelsea ingin memiliki tiga striker, dengan Joao Pedro dan Welbeck sebagai pilihan utama, dan Emmanuel Emegha berpeluang besar menjadi pelengkap.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, situasi Chelsea ini menarik untuk dicermati. Klub-klub Asia, termasuk yang ada di Indonesia, kerap menjadi tujuan pemain-pemain yang tidak lagi masuk rencana klub Eropa. Kedatangan Chelsea ke Indonesia untuk melawan AC Milan pada Sabtu ini bisa menjadi ajang unjuk gigi bagi pemain-pemain yang ingin membuktikan diri. Namun, yang lebih penting, model bisnis Chelsea yang agresif dalam membeli pemain muda dan menjualnya kembali dengan harga tinggi—seperti Andrey Santos yang dibeli £12 juta dan dijual £50 juta ke Manchester United—menjadi pelajaran berharga bagi klub-klub Indonesia yang mulai serius mengembangkan akademi dan strategi transfer.
Meski Chelsea memiliki pendapatan terendah di antara 'big six' karena kapasitas Stamford Bridge yang terbatas dan kurangnya sponsor utama, mereka tetap mampu bersaing berkat keuntungan dari trading pemain. Strategi ini mirip dengan Brighton, Brentford, dan Bournemouth, tetapi dengan ambisi yang lebih besar: memenangkan trofi dan kembali ke Liga Champions. Pertanyaannya, apakah Alonso dapat menyeimbangkan tuntutan bisnis dengan kebutuhan tim? Dengan 25 hari tersisa, semua mata tertuju pada bagaimana Chelsea menuntaskan 'diet' skuad mereka—dan apakah keputusan yang diambil akan membawa mereka kembali ke papan atas atau justru terperosok lebih dalam.



