DNA Korban Tragedi Tambang 1942 Mulai Diuji: Jepang-Korea Selatan Bekerja Sama
Baca dalam 60 detik
- Polisi Yamaguchi menyerahkan sampel sisa kerangka korban kecelakaan tambang batu bara bawah laut tahun 1942 ke Korea Selatan untuk uji DNA.
- Tragedi yang menewaskan 47 pekerja Jepang dan 136 pekerja Korea ini menjadi simbol sejarah kelam kolonialisme Jepang di Semenanjung Korea.
- Kerja sama DNA ini merupakan tindak lanjut pertemuan Perdana Menteri Jepang dan Presiden Korea Selatan pada Januari lalu.

Polisi prefektur Yamaguchi, Jepang, memulai pengujian DNA terhadap sisa-sisa korban kecelakaan tambang batu bara bawah laut yang terjadi pada 1942, sebuah tragedi yang merenggut nyawa 47 warga Jepang dan 136 pekerja asal Korea. Kepala polisi prefektur, Taishi Akimoto, mengungkapkan bahwa sampel telah diserahkan kepada pejabat pemerintah Korea Selatan pekan lalu untuk dianalisis.
"Pemerintah Jepang dan Korea Selatan akan melakukan analisis DNA secara terpisah, kemudian saling bertukar hasilnya," ujar Akimoto di hadapan majelis prefektur. Langkah ini menandai babak baru dalam upaya identifikasi korban yang telah berlangsung puluhan tahun.
Kecelakaan terjadi pada 3 Februari 1942 di tambang Chosei, lepas pantai Ube, Yamaguchi. Saat itu, Semenanjung Korea berada di bawah kekuasaan kolonial Jepang, dan banyak pekerja Korea dipaksa bekerja di tambang tersebut. Tragedi ini menjadi salah satu luka sejarah yang masih membekas hingga kini.
Inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan antara Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung di Tokyo pada Januari lalu. Kedua pemimpin sepakat untuk memperkuat kerja sama kemanusiaan, termasuk identifikasi korban perang dan bencana masa lalu. Pada Mei, kedua negara secara resmi mengumumkan dimulainya proses analisis.
Bagi Indonesia, tragedi serupa juga pernah terjadi di masa lalu, seperti peristiwa kerja paksa (romusha) pada era kolonial Belanda dan pendudukan Jepang. Kisah korban tambang Chosei mengingatkan pada pentingnya rekonsiliasi sejarah dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Langkah Jepang dan Korea Selatan ini bisa menjadi preseden bagi negara-negara Asia lainnya untuk menyelesaikan luka sejarah melalui pendekatan ilmiah dan kemanusiaan.
Menurut pengamat hubungan internasional, kerja sama ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga memiliki dimensi diplomatik yang kuat. "Ini adalah langkah kecil namun signifikan dalam membangun kepercayaan antara kedua negara," ujar seorang analis dari Universitas Tokyo. Namun, masih banyak keluarga korban yang menanti kepastian identitas sanak saudara mereka.
Ke depan, hasil uji DNA diharapkan dapat mengungkap identitas para korban yang belum dikenal. Pertanyaan yang tersisa adalah: akankah kerja sama ini membuka jalan bagi penyelesaian isu-isu sejarah lain antara Jepang dan Korea Selatan, seperti kompensasi bagi korban kerja paksa? Atau justru akan menjadi simbol rekonsiliasi yang terbatas?



