Keterbatasan HCU RSCM: Pasien BPJS Menunggu 8 Jam, Kemenkes Buka Suara
Baca dalam 60 detik
- Kemenkes mengonfirmasi bahwa keterbatasan ruang HCU di RSCM menjadi penyebab pasien BPJS harus menunggu delapan jam, menyoroti tekanan pada rumah sakit rujukan nasional.
- Insiden ini memicu kritik publik terhadap empati tenaga kesehatan, dengan Menkes menegaskan larangan sikap nir-empati dalam pelayanan medis.
- Kasus ini membuka diskusi tentang kapasitas fasilitas kesehatan dan perlunya reformasi sistem rujukan serta peningkatan jumlah ruang perawatan intensif di Indonesia.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akhirnya angkat bicara terkait viralnya seorang pasien BPJS Kesehatan yang harus menunggu delapan jam di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) karena kekurangan ruang High Care Unit (HCU). Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes, Azhar Jaya, mengakui bahwa RSCM, sebagai rumah sakit rujukan nasional, kerap mengalami kepenuhan, dan waktu tunggu tersebut sangat bergantung pada ketersediaan ruangan.
Peristiwa ini mencuat setelah seorang pasien bernama Yusrizal mengunggah pengalamannya di media sosial Threads. Ia mengeluhkan belum mendapatkan ruang perawatan setelah menunggu selama delapan jam. Unggahan tersebut kemudian dibanjiri komentar negatif dari sejumlah akun yang belakangan diketahui merupakan tenaga kesehatan (nakes). Komentar-komentar yang dianggap kurang empati itu pun memicu kecaman publik dan menjadi sorotan luas.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa setiap tenaga kesehatan yang melayani masyarakat tidak boleh bersikap nir-empati, terutama terhadap pasien yang sedang sakit. Pernyataan ini disampaikan Budi saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kamis (7/8). Ia menekankan bahwa profesi pelayanan masyarakat, khususnya nakes, harus menjunjung tinggi empati dalam setiap interaksi dengan pasien.
Azhar Jaya menambahkan bahwa pasien yang bersangkutan memiliki penyakit dengan komplikasi keganasan, dan pihak keluarga telah memahami kondisi tersebut. Meski demikian, kejadian ini menyoroti masalah yang lebih besar: kapasitas fasilitas kesehatan di Indonesia, terutama di rumah sakit rujukan tingkat nasional seperti RSCM, yang seringkali kewalahan menampung pasien dari berbagai daerah.
Bagi masyarakat Indonesia, kasus ini menjadi cermin nyata tantangan dalam sistem kesehatan nasional. Keterbatasan ruang HCU tidak hanya dialami di RSCM, tetapi juga di banyak rumah sakit lain di tanah air. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas sistem rujukan berjenjang dan perlunya penambahan infrastruktur kesehatan, terutama ruang perawatan intensif, di berbagai daerah.
Para pengamat kesehatan menilai bahwa insiden ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengevaluasi kembali kebijakan kesehatan, termasuk alokasi anggaran untuk peningkatan kapasitas rumah sakit. Selain itu, perlu ada perbaikan dalam sistem informasi dan komunikasi antara pasien, keluarga, dan pihak rumah sakit agar kejadian serupa dapat diminimalisir.
Di sisi lain, respons cepat Menkes yang menegaskan pentingnya empati nakes patut diapresiasi. Namun, teguran tersebut tidak akan banyak berarti tanpa adanya perubahan sistemik yang mendukung nakes dalam memberikan pelayanan terbaik, seperti pengurangan beban kerja dan peningkatan fasilitas pendukung.
Ke depan, pemerintah perlu memastikan bahwa kejadian seperti ini tidak terulang. Apakah akan ada kebijakan baru untuk menambah ruang HCU di rumah sakit rujukan, ataukah akan ada terobosan dalam sistem rujukan untuk mengurangi antrean? Pertanyaan ini menuntut jawaban nyata dari para pemangku kebijakan.



