Pemerintah Ambil Alih 60% Saham KCIC, Danantara Buka Opsi Restrukturisasi Utang Whoosh
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Keuangan akan menunjuk badan khusus untuk mengambil alih 60% saham PT KCIC, operator kereta cepat Jakarta-Bandung.
- Langkah ini diambil untuk merestrukturisasi utang proyek senilai US$7,3 miliar tanpa membebani APBN, dengan target penyelesaian transaksi pada pertengahan September.
- Pengambilalihan ini menandai intervensi negara yang lebih dalam pada proyek strategis nasional, sekaligus menguji kredibilitas Danantara dalam mengelola aset BUMN.

Pemerintah Indonesia resmi mengambil alih kendali mayoritas atas PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), operator kereta cepat Jakarta-Bandung yang dikenal dengan nama Whoosh. Langkah ini diumumkan langsung oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers bersama Danantara, Rabu (5/8), sebagai upaya menyelamatkan proyek senilai US$7,3 miliar yang selama ini dibayangi pembengkakan biaya dan masalah pembebasan lahan.
Dalam skema baru ini, Kementerian Keuangan akan menunjuk sebuah badan di bawah naungannya untuk mengambil alih 60% saham yang selama ini dipegang konsorsium BUMN, yang dipimpin PT Kereta Api Indonesia dan PT Wijaya Karya. Nilai transaksi tidak diungkapkan, namun badan tersebut akan bertanggung jawab melunasi sisa utang proyek tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Adapun 40% saham lainnya tetap berada di tangan perusahaan pelat merah China.
Langkah ini merupakan bagian dari restrukturisasi menyeluruh yang telah dinegosiasikan dengan China sejak April lalu. Dony Oskaria, Chief Operating Officer Danantara, menyatakan bahwa proses pengambilalihan ditargetkan rampung paling lambat pertengahan September. Danantara, yang menguasai seluruh BUMN, akan memastikan transisi ini berjalan mulus dan tidak mengganggu operasional Whoosh yang telah melayani rute sepanjang 142 kilometer antara Jakarta dan Bandung.
Konteks Indonesia: Langkah ini bukan sekadar penyelamatan finansial, tetapi juga ujian bagi kredibilitas Danantara dalam mengelola aset negara. Sejak diluncurkan, Danantara digadang-gadang menjadi superholding yang mampu menarik investasi global. Namun, pengambilalihan saham KCIC justru menunjukkan bahwa negara masih harus turun tangan untuk proyek-proyek yang dianggap strategis namun secara komersial belum menguntungkan. Para pengamat menilai, keputusan ini bisa menjadi preseden bagi pengelolaan proyek infrastruktur lain yang dibiayai asing, terutama yang melibatkan China.
Sejak awal, proyek Whoosh dihadapkan pada berbagai kendala, mulai dari pembebasan lahan yang alot, penundaan akibat pandemi, hingga biaya yang membengkak dari perkiraan awal. Meski demikian, kereta cepat ini tetap menjadi simbol ambisi infrastruktur Indonesia. Kini, dengan pengambilalihan ini, pemerintah tampaknya ingin memastikan proyek ini tidak menjadi beban jangka panjang yang menghambat fiskal.
Namun, pertanyaan besar masih menggantung: apakah badan yang ditunjuk nantinya mampu mengelola utang tanpa mengorbankan layanan? Dan bagaimana dampaknya terhadap hubungan dagang Indonesia-China, mengingat Beijing masih memegang 40% saham? Yang jelas, keputusan ini menandai babak baru dalam pengelolaan proyek strategis nasional, di mana negara mengambil peran lebih besar untuk menjaga keberlanjutan investasi.



