Trump Kecam Starmer soal Energi dan Imigrasi: 'Dia Celakai Dirinya Sendiri'
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump mengecam Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang akan mundur, menuding kebijakan energi dan imigrasinya merugikan negara.
- Trump menyoroti kegagalan Inggris memanfaatkan minyak Laut Utara dan ketergantungan pada impor energi Norwegia, serta keterlambatan izin pangkalan militer untuk serangan Iran.
- Andy Burnham diprediksi menjadi pengganti Starmer sebagai PM Inggris ketujuh dalam satu dekade, tanpa melalui pemilihan internal yang kompetitif.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengkritik Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang baru saja mengumumkan pengunduran dirinya, dengan menyebut penanganan energi dan imigrasi sebagai dua kelemahan utama yang membuatnya “sangat terluka”. Dalam pernyataan di Gedung Putih, Trump menilai Starmer gagal memanfaatkan potensi minyak Laut Utara dan justru membiarkan ladang angin mendominasi kebijakan energi Inggris.
Trump, yang sebelumnya telah memprediksi kepergian Starmer melalui unggahan di Truth Social, menyebut pemimpin Partai Buruh itu sebagai “teman” namun kecewa dengan kurangnya dukungan terhadap AS dalam isu NATO dan perang Iran. Salah satu puncak ketegangan terjadi ketika Inggris menunda izin penggunaan pangkalan militer RAF Akrotiri di Siprus untuk serangan udara AS ke Iran. “Dia bilang kami tidak bisa menggunakan pulau itu untuk mendarat. Itu pertama kalinya,” ujar Trump, seraya menambahkan bahwa meskipun akhirnya diizinkan, keputusan awal itu tetap menjadi “langkah buruk” yang merugikan Starmer.
Starmer mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pemimpin Partai Buruh pada Senin (22/6) setelah berbulan-bulan menghadapi tekanan dari internal partai dan hasil pemilu lokal yang buruk. Ia akan tetap menjabat sebagai perdana menteri selama masa transisi yang tertib. Nama Andy Burnham, mantan Wali Kota Greater Manchester yang populer dengan julukan “King of the North”, muncul sebagai kandidat kuat pengganti. Analis politik dari Monash University, Ben Wellings, memperkirakan Burnham akan dilantik pada pertengahan Juli tanpa melalui kontestasi berarti, mengingat calon lain seperti Wes Streeting memutuskan tidak maju.
Kritik Trump terhadap Starmer juga menyentuh isu imigrasi dan kejahatan, yang menurutnya menjadi masalah kronis di Inggris. “Dia punya dua masalah: energi dan imigrasi – dan kejahatan. Tapi energi dan imigrasi. Dia benar-benar menyakiti dirinya sendiri,” kata Trump. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan dari partai oposisi, termasuk Reform UK pimpinan Nigel Farage yang menuntut pemilu umum. Namun, Wellings menilai tuntutan itu hanya upaya Farage untuk mengganggu Partai Buruh, karena keberhasilan Burnham dapat mengancam popularitas Reform UK.
Bagi Indonesia, dinamika politik Inggris ini relevan mengingat hubungan dagang dan investasi yang cukup signifikan antara kedua negara. Inggris merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia di Eropa, dengan nilai perdagangan bilateral mencapai miliaran dolar AS per tahun. Kebijakan energi Inggris yang lebih hijau juga berpotensi mempengaruhi kerja sama di sektor energi terbarukan, di mana Indonesia tengah gencar mengembangkan potensi panas bumi dan tenaga surya. Selain itu, stabilitas politik di Inggris akan berdampak pada iklim investasi bagi perusahaan-perusahaan Indonesia yang beroperasi di sana.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Burnham mampu mengembalikan kepercayaan publik dan menyelesaikan masalah energi serta imigrasi yang diwarisi dari Starmer. Atau justru ia akan menghadapi nasib serupa di tengah tekanan politik domestik dan hubungan transatlantik yang tidak menentu?



