Dukung Infantino, Meksiko Berseberangan dengan Concacaf: Ketegangan Menjelang Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Federasi Sepak Bola Meksiko secara terbuka mendukung Gianni Infantino, berseberangan dengan sikap kritis Concacaf dan UEFA.
- Dukungan Meksiko dan Argentina memperkuat posisi Infantino di tengah ancaman boikot Piala Dunia oleh UEFA.
- Krisis kepemimpinan FIFA ini berpotensi mempengaruhi solidaritas global dan persiapan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Meksiko, AS, dan Kanada.

Federasi Sepak Bola Meksiko (FMF) secara mengejutkan memilih berseberangan dengan induk organisasi regionalnya, Concacaf, dengan menyatakan dukungan penuh terhadap presiden FIFA Gianni Infantino. Langkah ini muncul di tengah gelombang kritik dan tuntutan pengunduran diri terhadap Infantino setelah rencana kontroversial penjualan saham Piala Dunia kepada investor swasta dibatalkan.
Concacaf, yang menaungi sepak bola di Amerika Utara, Tengah, dan Karibia, sebelumnya menyerukan "pertanggungjawaban menyeluruh" atas kepemimpinan Infantino. Namun, Meksiko—yang akan menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama Amerika Serikat dan Kanada—justru memberikan pembelaan terbuka. Dalam pernyataan resminya, FMF menegaskan bahwa mereka mendukung kepemimpinan Infantino dalam memajukan perkembangan sepak bola melalui penguatan kelembagaan.
Dukungan ini sejalan dengan sikap Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (Conmebol) yang menolak upaya pemecatan Infantino tanpa melalui mekanisme voting yang melibatkan seluruh 211 anggota FIFA. Meski demikian, Conmebol juga menyampaikan kekhawatiran atas tindakan sepihak yang dilakukan tanpa dialog. Sementara itu, Asosiasi Sepak Bola Argentina, yang menjadi runner-up Piala Dunia 2022, memuji Infantino karena mengakui dan meminta maaf atas "kesalahan-kesalahannya", serta menilai masa kepemimpinannya selama satu dekade berfokus pada pembangunan sepak bola global dengan model tata kelola yang transparan.
Di sisi lain, UEFA—induk organisasi sepak bola Eropa—masih ngotot dengan ancaman boikot Piala Dunia. UEFA menilai syarat-syarat yang diajukan untuk memulihkan kepercayaan belum dipenuhi, meskipun Infantino telah menarik proposal kontroversialnya. UEFA bahkan menyebut proposal FIFA Forward Enterprise (FFE) sebagai "kesepakatan gelap dan tidak transparan". Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) juga telah menarik dukungannya terhadap Infantino, diikuti oleh Wales, Albania, dan Kroasia. Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) justru memberikan dukungan bulat kepada Infantino, sementara Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) sebelumnya menyatakan solidaritas dengan UEFA dan Concacaf dalam menentang rencana tersebut.
Ketegangan ini bermula dari tawaran Infantino yang memberikan 40 juta dolar AS kepada setiap asosiasi anggota jika mereka mendukung proposal investasi swasta di turnamen-turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia putra dan putri, melalui anak perusahaan FFE. Dalam pertemuan eksekutif FIFA di Maroko, badan sepak bola dunia itu mengakui adanya "kesalahan" dalam proses FFE dan menyatakan bahwa bukanlah niat untuk membuat Dewan FIFA dan asosiasi anggota merasa dikecualikan. Namun, UEFA menegaskan bahwa posisinya tetap: kepercayaan terhadap Infantino telah hilang, dan dukungan dari orang-orang yang bergantung pada presiden FIFA tidak mengubah apa pun.
Bagi Indonesia, dinamika ini patut dicermati mengingat posisi PSSI sebagai bagian dari AFC yang sebelumnya menentang rencana FFE. Meski tidak terlibat langsung, keputusan FIFA ke depan akan berdampak pada alokasi dana pembangunan sepak bola di negara berkembang, termasuk Indonesia. Jika krisis ini berlarut, program-program pengembangan yang selama ini digalakkan FIFA berisiko tertunda, dan Indonesia sebagai salah satu penerima manfaat potensial perlu memantau arah kebijakan FIFA pasca-kontroversi ini.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Infantino mampu menjembatani perbedaan antara Eropa dan Amerika, atau justru memicu perpecahan yang lebih dalam. Dengan Piala Dunia 2026 yang semakin dekat, tekanan untuk menemukan solusi akan semakin besar. Apakah UEFA benar-benar akan memboikot turnamen akbar tersebut, ataukah ini hanya taktik negosiasi? Yang jelas, dunia sepak bola tengah berada di persimpangan yang menentukan arah tata kelola olahraga paling populer di planet ini.



