Skandal Donasi Kuil Ram di Ayodhya: Puluhan Juta Rupee Dikorupsi, Umat Kecewa
Baca dalam 60 detik
- Kuil Ram di Ayodhya, salah satu tempat ziarah tersuci di India, diguncang tuduhan penggelapan donasi hingga 70 juta rupee oleh mantan pengawas keuangan.
- Pemerintah Uttar Pradesh membentuk tim investigasi khusus, namun desakan untuk menyerahkan kasus ke kepolisian federal semakin kuat.
- Kontroversi ini berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap institusi keagamaan yang erat kaitannya dengan partai berkuasa BJP.

Skandal keuangan menerpa Kuil Ram di Ayodhya, India, setelah seorang mantan pengawas keuangan mengungkap dugaan penggelapan donasi senilai puluhan juta rupee. Tempat ibadah yang baru diresmikan pada Januari 2024 itu kini menjadi sorotan publik dan memicu gelombang tuntutan investigasi independen.
Kuil yang berdiri di atas tanah sengketa bekas Masjid Babri ini menarik sekitar 50 juta peziarah setiap tahunnya. Dengan pendapatan tahunan mencapai 3,27 miliar rupee (sekitar Rp630 miliar), kuil ini termasuk salah satu yang terkaya di India. Namun, keberadaan 35 kotak donasi yang tersebar di kompleks seluas 2,7 hektar itu justru menjadi celah potensial penyelewengan.
Mahipal Singh, mantan supervisor tim akuntansi kuil, mengklaim telah dipecat setelah melaporkan kejanggalan dalam penanganan uang tunai dan logam mulia. Ia mengaku mendapat ancaman pembunuhan dan menolak berbicara lebih lanjut kepada media. Meski klaimnya belum diverifikasi secara independen, pernyataan Singh langsung menjadi bola panas politik setelah politikus senior Akhilesh Yadav mendesak penyelidikan pada 7 Juni lalu.
Pemerintah negara bagian Uttar Pradesh yang dikuasai BJP membentuk Tim Investigasi Khusus (SIT) beranggotakan tiga orang. Namun, laporan interim yang diajukan pekan lalu justru meminta perpanjangan waktu, sementara belum ada temuan resmi yang dipublikasikan. Kepala Menteri Yogi Adityanath meminta publik bersabar dan menyerahkan bukti kepada penyidik. "Orang yang sudah menunggu berabad-abad untuk kuil ini bisa menunggu beberapa hari lagi," ujarnya.
Di sisi lain, tekanan untuk melibatkan Biro Investigasi Pusat (CBI) semakin deras. Sejumlah petisi diajukan ke Mahkamah Agung dan pengadilan tinggi negara bagian agar kasus ini diawasi langsung oleh hakim. Seorang pengacara senior bahkan menulis surat kepada Perdana Menteri Modi dan Ketua Mahkamah Agung, menekankan bahwa donasi ini bukan sekadar penerimaan komersial, melainkan persembahan sakral yang penggelapannya merupakan pengkhianatan terhadap kepercayaan jutaan umat.
Bagi umat Hindu setempat, skandal ini terasa seperti tamparan keras. "Persembahan itu untuk pemeliharaan kuil dan kesejahteraan peziarah, bukan untuk dibawa pulang," ujar Vijay Lakshmi, warga Ayodhya. Santosh Puri menyebutnya sebagai "pukulan fatal bagi agama kami". Sementara BP Pandey menilai tuduhan ini sebagai "noda" bagi pemerintah dan pengelola kuil.
Kontroversi ini muncul di saat sensitif, mengingat kuil tersebut merupakan simbol politik utama BJP. Peresmiannya pada Januari 2024 disebut-sebut berkontribusi pada kemenangan Modi dalam pemilu beberapa bulan kemudian. Kini, partai oposisi menuntut jawaban langsung dari perdana menteri dan partainya yang berkuasa di tingkat pusat maupun negara bagian.
Ke depan, kredibilitas SIT akan menjadi ujian. Jika publik menilai investigasi tidak transparan, desakan untuk melibatkan CBI bisa semakin tak terbendung. Pertanyaan besarnya: akankah skandal ini menggerus legitimasi politik yang dibangun di atas simbol keagamaan, atau justru akan meredup seiring waktu?



