Polda Kepri Gelar Pensucian Pataka ‘Seligi Marwah Negeri’ Jelang Hari Bhayangkara ke-80
Baca dalam 60 detik
- Polda Kepulauan Riau menggelar upacara pensucian pataka dan pemuliaan nilai-nilai Tribrata secara hibrida di Batam.
- Ritual tahunan ini menjadi momentum refleksi bagi personel untuk memperkuat integritas dan profesionalisme menjelang Hari Bhayangkara ke-80.
- Kegiatan virtual via Zoom memperluas partisipasi dan menegaskan komitmen Polri pada nilai-nilai etika dan pengabdian.

Kepolisian Daerah Kepulauan Riau menggelar upacara pensucian Pataka Polda Kepri bertajuk “Seligi Marwah Negeri” di Batam, Kamis (25/6/2026), sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80. Prosesi yang dipimpin langsung oleh Kapolda Kepri ini tidak hanya menjadi seremoni seremonial, melainkan juga momentum penguatan kembali nilai-nilai dasar kepolisian di tengah tuntutan pelayanan publik yang semakin kompleks.
Upacara yang dihadiri oleh Wakapolda, Irwasda, serta para pejabat utama Polda Kepri ini dirangkaikan dengan kegiatan pemuliaan nilai-nilai Tribrata yang dilaksanakan secara virtual melalui Zoom Meeting. Langkah ini memungkinkan partisipasi personel di berbagai wilayah tanpa harus meninggalkan tempat tugas, sekaligus menjadi bukti adaptasi Polri terhadap teknologi digital dalam pembinaan tradisi institusi.
Kepala Bidang Humas Polda Kepri, Kombes Pol. Nona Pricillia Ohei, menegaskan bahwa prosesi pensucian pataka bukan sekadar ritual tahunan. “Ini adalah momentum refleksi bagi seluruh personel untuk terus menjaga integritas, profesionalisme, dan semangat pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima pada hari yang sama.
Bagi masyarakat Indonesia, tradisi pensucian pataka dan pemuliaan nilai-nilai Tribrata memiliki relevansi langsung dengan kualitas pelayanan kepolisian. Nilai-nilai seperti etika, disiplin, loyalitas, dan dedikasi yang ditekankan dalam kegiatan ini diharapkan berdampak pada peningkatan kepercayaan publik terhadap Polri. Di tengah berbagai tantangan keamanan dan ketertiban di wilayah perbatasan dan maritim Kepri, penguatan karakter personel menjadi krusial.
Menurut pengamat kepolisian dari Universitas Indonesia, Dr. Bambang Widodo, tradisi semacam ini penting untuk menjaga moral dan kohesi internal. “Upacara seperti ini mengingatkan anggota Polri bahwa mereka bukan sekadar aparat penegak hukum, tetapi juga pelayan masyarakat yang harus menjunjung tinggi marwah institusi,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa penggunaan teknologi dalam kegiatan pembinaan tradisi menunjukkan Polri mulai meninggalkan cara-cara konvensional yang kurang efisien.
Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 mengusung tema Polri yang Presisi (Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan) dan modern. Melalui serangkaian kegiatan seperti pensucian pataka, Polri berupaya menanamkan kembali nilai-nilai Tribrata sebagai pedoman hidup dan kerja. Diharapkan, semangat ini tidak hanya berhenti pada seremoni, tetapi terwujud dalam pelayanan nyata kepada masyarakat.
Ke depan, publik akan mengamati apakah transformasi internal Polri, termasuk pembinaan tradisi yang lebih inklusif dan digital, mampu menjawab ekspektasi masyarakat akan penegakan hukum yang profesional dan berkeadilan. Pertanyaan besarnya: sejauh mana ritual tahunan ini mampu mendorong perubahan perilaku di lapangan?



