Pemerataan Digital Kalteng: 1.237 Perangkat Starlink Disalurkan ke Sekolah dan Puskesmas
Baca dalam 60 detik
- Pemprov Kalteng menyalurkan 1.237 unit Starlink ke 14 kabupaten/kota untuk sekolah dan puskesmas.
- Langkah ini menargetkan penghapusan blank spot dan percepatan transformasi digital di daerah terpencil.
- Ke depan, konektivitas satelit diharapkan membuka peluang ekonomi baru bagi UMKM desa.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah memulai babak baru dalam upaya pemerataan akses internet dengan menyalurkan 1.237 perangkat Starlink ke seluruh kabupaten dan kota. Hibah ini menyasar sekolah dasar, sekolah menengah pertama, serta puskesmas yang selama ini terhambat oleh keterbatasan infrastruktur telekomunikasi konvensional.
Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, menegaskan bahwa pembangunan yang merata tidak hanya diukur dari fisik semata, melainkan juga dari kemampuan masyarakat mengakses teknologi informasi. Pernyataan ini disampaikan saat seremoni penyerahan bantuan di Palangka Raya, Jumat lalu. Menurutnya, kehadiran internet berbasis satelit menjadi jawaban atas kesenjangan digital yang selama ini dirasakan warga di pedalaman.
Penyaluran tahap awal ini menunjukkan variasi kebutuhan yang signifikan antarwilayah. Kabupaten Katingan menerima jatah terbanyak dengan 287 unit, disusul Kotawaringin Barat dengan 176 unit, dan Seruyan dengan 131 unit. Sementara itu, Kota Palangka Raya hanya memperoleh 14 unit karena jangkauan internetnya dinilai sudah lebih memadai. Distribusi ini mencerminkan prioritas pemerintah untuk mengejar ketertinggalan di daerah yang paling terisolasi.
Gubernur berharap perangkat ini mampu memutus rantai blank spot yang selama ini menghambat layanan publik. Dengan dukungan teknologi satelit, stabilitas koneksi diharapkan meningkat, sehingga digitalisasi pelayanan kesehatan dan pendidikan dapat berjalan lebih cepat. Ia juga menyoroti potensi ekonomi yang mengikuti, di mana masyarakat desa dapat memanfaatkan internet untuk mempromosikan produk unggulan, mengembangkan UMKM, dan mengakses pasar digital yang lebih luas.
"Kehadiran perangkat ini kami harap mampu mengatasi wilayah blank spot sekaligus memperkuat konektivitas digital hingga ke pelosok Kalimantan Tengah," ujar Agustiar Sabran.
Langkah Kalteng ini sejalan dengan tren nasional adopsi internet satelit untuk daerah tertinggal. Meski demikian, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh pengadaan perangkat, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia dan pemeliharaan infrastruktur. Pemerintah provinsi menekankan pentingnya sinergi antara tingkat provinsi, kabupaten/kota, dan desa agar implementasi transformasi digital berjalan efektif.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah inisiatif serupa akan diadopsi provinsi lain yang memiliki karakteristik geografis serupa. Jika berhasil, model hibah Starlink ini bisa menjadi referensi bagi kebijakan konektivitas nasional yang lebih inklusif.



