Potter Bela Mati-matian Kapten Swedia: 'Jika Saya di Sini, Dia Bermain'
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Swedia Graham Potter secara terbuka membela kapten Isak Hien yang dikritik habis-habisan setelah kekalahan 5-1 dari Belanda di Piala Dunia 2026.
- Potter menegaskan bahwa kritik terhadap Hien tidak adil dan lebih merupakan pelampiasan rasa sakit setelah kekalahan tim.
- Swedia kini berada di posisi kritis di Grup F, harus mengalahkan Jepang di laga pamungkas untuk menjaga asa lolos.

Pelatih tim nasional Swedia, Graham Potter, memberikan pembelaan penuh semangat kepada kapten dan bek tengah Isak Hien yang menjadi sasaran kritik tajam setelah kekalahan telak 5-1 dari Belanda pada laga kedua Grup F Piala Dunia 2026, Sabtu (20/6) lalu. Potter dengan tegas menyatakan bahwa Hien tetap akan menjadi pilihan utamanya di lini belakang, apa pun yang dikatakan publik.
Dalam konferensi pers di markas latihan Swedia, Senin (22/6), Potter melontarkan pernyataan yang jarang terdengar dari seorang pelatih di level tertinggi. "Saya mencintai Isak Hien. Saya tidak peduli apa kata orang โ jika saya di sini, dia yang bermain," ujarnya. Tiga gol pertama Belanda tercipta dari umpan silang yang melintas di depan gawang, dan Hien dianggap gagal mengantisipasi situasi tersebut.
Potter menilai kritik yang dialamatkan kepada Hien hanyalah bentuk "permainan menyalahkan" yang lazim terjadi di era media sosial. "Sejauh yang saya tahu, ini soal mencari kambing hitam. Jika semua orang ingin menyalahkan seseorang, salahkan saya, bukan dia. Dia sudah melakukan segalanya untuk membela negaranya dengan cara terbaik, tapi dia mendapat cercaan karena lawan mencetak gol," tegas pelatih asal Inggris itu.
Swedia memulai turnamen dengan gemilang, menghancurkan Tunisia 5-1. Namun, performa mereka anjlok saat berhadapan dengan Belanda. Hien, yang berusia 27 tahun, tampak kesulitan sepanjang laga. Meski demikian, Potter menekankan bahwa kekalahan adalah tanggung jawab kolektif. "Tidak ada yang melihat kesalahan lain sebelum kesalahan dia โ kesalahan saya, kesalahan pemain lain. Mengkritik Hien terasa enak karena Anda sakit hati setelah kekalahan. Saya paham media sosial seperti itu. Saat kalah, semua orang sakit hati. Lalu mereka mendorong kesalahan ke arahnya, dan itu membuat mereka sedikit lega. Tapi kenyataannya lebih rumit dari itu," papar Potter.
Kini, Swedia berada di posisi genting. Mereka menempati peringkat ketiga Grup F dengan tiga poin, tertinggal satu angka dari Belanda dan Jepang yang sama-sama mengoleksi empat poin. Tunisia sudah dipastikan tersingkir tanpa poin. Laga pamungkas melawan Jepang pada pekan ini akan menjadi penentu nasib Swedia. Kemenangan menjadi harga mati jika ingin lolos ke babak 16 besar, sekalipun harus bergantung pada hasil pertandingan lain.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah ini mengingatkan pada tekanan yang kerap dialami pemain bertahan di level tertinggi. Di Liga Indonesia, bek lokal sering menjadi sasaran kritik ketika tim kebobolan, tanpa melihat kesalahan sistemik. Pembelaan Potter terhadap Hien bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya soliditas tim dan tidak mudah mencari kambing hitam.
Pertanyaan besarnya, mampukah Swedia bangkit di bawah tekanan? Ataukah kritik terhadap Hien justru akan menjadi bumerang yang menghancurkan moral tim? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa hari ke depan.



