IHSG Terperosok, Investor Asing Jual Bersih Rp1,11 Triliun — Intip Rekomendasi Saham Hari Ini
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,98% ke 6.116,69 pada perdagangan Senin, dipicu aksi jual asing dan pelemahan sembilan sektor.
- Tiga aksi korporasi besar menyita perhatian: IPO JECX, MTO SONA, dan PMTHMETD GPSO, dengan potensi pergeseran likuiditas ke pasar primer.
- Analis merekomendasikan akumulasi beli untuk saham OMED, TINS, GULA, SONA, dan ESIP dengan target harga tertentu.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan awal pekan, ditutup merosot 0,98% ke level 6.116,69 pada Senin (22/6), seiring aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp1,11 triliun di seluruh pasar. Pelemahan ini menjadi sinyal waspada bagi pelaku pasar di tengah derasnya arus penawaran umum perdana saham (IPO) yang dijadwalkan melantai pada Juli mendatang.
Dari 11 sektor industri, sembilan di antaranya berakhir di zona merah. Sektor bahan baku menjadi yang terpuruk dengan koreksi 2,49%, sementara sektor energi justru mencatat penguatan signifikan sebesar 1,47%. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBRI, TLKM, dan BMRI menjadi pemberat utama indeks, masing-masing turun 2,05%, 2,71%, dan 2,09%. Di sisi lain, BYAN melesat 20%, diikuti CASA dan AMRT yang masing-masing naik 3,01% dan 4,44%.
Kondisi pasar global turut mempengaruhi sentimen. Indeks Dow Jones menguat 0,29% ke 51.712, namun S&P 500 dan Nasdaq justru melemah masing-masing 0,37% dan 1,33%. ETF EIDO dan MSCI Indonesia juga tertekan, turun 2,25% dan 2,12%, mengindikasikan pelemahan minat terhadap aset Indonesia di mata investor global.
Pelaku pasar kini mencermati sejumlah aksi korporasi yang berpotensi mengalihkan likuiditas dari pasar sekunder ke pasar primer. PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), pengelola jaringan JEC Eye Hospitals and Clinics, tengah dalam masa book building pada 22–24 Juni 2026 dan dijadwalkan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 7 Juli 2026. Dengan menawarkan 487,84 juta saham baru (8% dari modal ditempatkan) plus 162,88 juta saham milik pemegang saham eksisting, perseroan membidik dana segar hingga Rp683,18 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk pelunasan pinjaman ke BBCA dan HSBC, serta modal kerja entitas anak hingga 2027.
Selain IPO, PT Sona Topas Tourism Industry Tbk (SONA) akan melaksanakan mandatory tender offer (MTO) atas 50,53 juta saham dengan harga Rp2.284 per saham, total nilai Rp115,43 miliar. MTO ini merupakan lanjutan akuisisi oleh PT Pratama Citra Karunia (PCK) pada April lalu. Periode penawaran berlangsung 23 Juni–22 Juli 2026, dan setelahnya kepemilikan PCK diperkirakan naik menjadi 52,63%, sementara kepemilikan publik berpotensi tergerus habis. Sementara itu, PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) berencana menerbitkan 66,67 juta saham baru (10% modal) melalui PMTHMETD dengan harga Rp427 per saham, guna membiayai pembelian aset tetap dari PT Jakarta Indah Casting senilai Rp78,5 miliar. Sisanya akan dipinjam dari Bank China Construction Bank Indonesia.
Bagi investor ritel Indonesia, derasnya aksi korporasi ini membuka peluang sekaligus risiko. IPO JECX menawarkan eksposur ke sektor kesehatan yang prospektif, namun MTO SONA dan dilusi GPSO perlu dicermati karena berpotensi mengubah struktur kepemilikan secara drastis. Analis merekomendasikan akumulasi beli untuk OMED (buy 208–210, target 218–222, stop loss 200), TINS (buy 3670–3690, target 3740–3810, stop loss 3490), GULA (buy 585–595, target 605–615, stop loss 560), SONA (buy 2240–2260, target 2290–2330, stop loss 2130), dan ESIP (buy 145–147, target 152–155, stop loss 135).
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat dipengaruhi oleh realisasi penyerapan IPO dan hasil MTO. Jika minat investor terhadap saham-saham baru tetap tinggi, bukan tidak mungkin likuiditas pasar sekunder semakin tertekan dalam jangka pendek. Namun, bagi yang jeli, momen koreksi ini bisa menjadi pintu masuk sebelum sentimen membaik.



