Panda Bond: Jurus Baru Pemerintah Lepas dari Belenggu Dolar AS
Baca dalam 60 detik
- Penerbitan Panda Bond yuan China menjadi strategi diversifikasi pembiayaan untuk mengurangi risiko fluktuasi dolar terhadap APBN.
- Skema Local Currency Transaction (LCT) memungkinkan pemerintah menerima rupiah tanpa konversi ke dolar, menekan tekanan pada nilai tukar.
- Bunga surat utang yuan diperkirakan lebih rendah dibanding dolar AS, berpotensi menekan biaya utang negara.

Pemerintah Indonesia segera menerbitkan surat utang berdenominasi yuan atau Panda Bond dalam beberapa hari ke depan, sebuah langkah yang dinilai sebagai upaya sistematis untuk mengurangi ketergantungan pembiayaan pada dolar Amerika Serikat. Langkah ini bukan sekadar diversifikasi portofolio utang, melainkan bagian dari strategi besar memperkuat stabilitas rupiah di tengah gejolak nilai tukar global.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan, Herman Saheruddin, mengungkapkan bahwa penerbitan Panda Bond merupakan salah satu bentuk diversifikasi sumber pembiayaan. "Dengan adanya diversifikasi ini, risiko beban APBN dari fluktuasi nilai tukar bisa diminimalkan, dan kita bisa mengurangi dampak ketergantungan pada dolar AS," ujarnya di Jakarta, Kamis (26/6/2026).
Menurut Herman, selama ini APBN rentan terhadap gejolak dolar, seperti yang pernah terjadi pada krisis 1998. Dengan adanya sumber pembiayaan dalam yuan, dampak penguatan dolar terhadap anggaran negara diharapkan tidak sebesar sebelumnya. China dipilih karena permintaan surat utang Indonesia di sana cukup tinggi dan pricing yang ditawarkan masih mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia.
Dalam rapat dengan DPD RI pada 22 Juni 2026, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Panda Bond memiliki nilai strategis. "Jangan hanya dolar base, tapi ke yuan base. China adalah ekonomi terbesar kedua di dunia, dan kita punya bilateral swap agreement serta local currency transaction dengan mereka. Dengan cara itu, tekanan ke rupiah akan melemah secara signifikan," paparnya.
Purbaya juga mengungkapkan bahwa biaya bunga yang ditanggung pemerintah dari Panda Bond diperkirakan lebih murah dibandingkan surat utang berdenominasi dolar AS. "Di China, Panda Bond kita expect bunganya lebih murah dibanding Amerika," katanya. Selain itu, penerbitan akan menggunakan skema Local Currency Transaction (LCT), di mana pembayaran dilakukan dalam yuan tanpa perlu konversi ke dolar. "Pokoknya saya terima rupiah, jadi saya tidak terpengaruh fluktuasi dolar," jelas Purbaya.
Bagi Indonesia, langkah ini memiliki implikasi domestik yang signifikan. Diversifikasi mata uang utang dapat mengurangi beban APBN akibat penguatan dolar, yang selama ini menjadi momok bagi stabilitas fiskal. Investor dan pelaku pasar di Indonesia perlu mencermati bagaimana mekanisme LCT ini akan diimplementasikan, karena berpotensi mengubah pola transaksi bilateral dengan China dan mengurangi kebutuhan cadangan dolar.
Ke depan, keberhasilan Panda Bond akan bergantung pada respons pasar dan kemampuan pemerintah menjaga kredibilitas fiskal. Apakah langkah ini akan menjadi preseden bagi penerbitan surat utang dalam mata uang lain, seperti yen atau euro? Atau justru menimbulkan risiko baru jika yuan mengalami depresiasi? Waktu yang akan menjawab, namun satu hal pasti: Indonesia mulai serius melepaskan diri dari dominasi dolar.



