Hamzah Kembali Pimpin Oposisi Malaysia: Isyarat Ketegangan di PN?
Baca dalam 60 detik
- Hamzah Zainudin kembali menjabat Pemimpin Oposisi Malaysia setelah sempat digantikan oleh Ahmad Samsuri Mokhtar.
- Pergantian ini memicu perdebatan di parlemen, dengan tuduhan PAS mendominasi koalisi Perikatan Nasional.
- Situasi ini mencerminkan dinamika internal koalisi oposisi yang berpotensi memengaruhi stabilitas politik Malaysia.

Kursi Pemimpin Oposisi Malaysia kembali berganti. Datuk Seri Hamzah Zainudin, anggota parlemen Larut, resmi menduduki posisi tersebut pada 18 Juni lalu, menggantikan Datuk Seri Dr. Ahmad Samsuri Mokhtar yang hanya menjabat selama tiga pekan. Keputusan ini langsung memicu perdebatan sengit di Dewan Rakyat, dengan tuduhan bahwa partai Islam PAS tengah mendominasi koalisi Perikatan Nasional (PN).
Ketua Whip Oposisi, Datuk Seri Takiyuddin Hassan, membela penunjukan Hamzah dengan menegaskan bahwa langkah itu tidak melanggar Pasal 49A Konstitusi Federal tentang larangan lompat partai. “Pemimpin Oposisi bukanlah anggota independen, melainkan dari partai politik terdaftar,” ujarnya di hadapan sidang. Namun, argumen itu tak meredakan kecurigaan dari kubu pemerintah.
Anggota parlemen Pakatan Harapan, Khoo Poay Tiong, menuding pergantian ini sebagai bukti adanya keretakan di tubuh PN. “Pemimpin oposisi tiba-tiba berubah seperti ini. Sepertinya ada pertengkaran antara PAS dan Bersatu,” sindirnya. Ia bahkan menambahkan bahwa PAS telah melakukan “intimidasi” terhadap Bersatu, partai pimpinan Muhyiddin Yassin. “Ini tidak profesional sama sekali,” tegas Khoo.
Speaker Dewan Rakyat, Tan Sri Johari Abdul, menyatakan telah memeriksa seluruh dokumen dan mengesahkan penunjukan Hamzah. Ia merinci kronologi: Hamzah menjabat hingga 20 Mei, kemudian digantikan oleh Ahmad Samsuri dari 21 Mei hingga 10 Juni, sebelum akhirnya kembali pada 18 Juni. Penataan ulang kursi juga menempatkan Muhyiddin Yassin tidak lagi di bangku depan oposisi, sebuah sinyal yang memperkuat spekulasi pergeseran kekuasaan di dalam PN.
Bagi Indonesia, dinamika politik Malaysia ini menarik dicermati mengingat kedekatan hubungan bilateral dan pengaruh PN terhadap kebijakan regional. Koalisi oposisi Malaysia yang terdiri dari partai-partai Melayu-Islam kerap menjadi barometer bagi kelompok konservatif di Indonesia. Jika ketegangan internal PN berlanjut, hal itu bisa berdampak pada stabilitas politik Malaysia dan hubungannya dengan negara tetangga.
Pertanyaan yang mengemuka: akankah PN mampu bertahan di bawah tekanan internal, atau justru perpecahan akan memperkuat posisi pemerintah Anwar Ibrahim? Jawabannya mungkin akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan, terutama menjelang pemilihan umum berikutnya.



