Panen 10 Ton Padi di Lahan Sempit Cakung: Bukti Urban Farming Bisa Perkuat Ketahanan Pangan Jakarta
Baca dalam 60 detik
- Pemkot Jakarta Timur memanen 10 ton gabah dari lahan 2,5 hektare di Cakung, menandai keberhasilan program pertanian perkotaan.
- Keberhasilan ini menunjukkan potensi pemanfaatan lahan tidur dan pekarangan warga untuk mendukung ketahanan pangan di tengah keterbatasan lahan perkotaan.
- Langkah ini sejalan dengan target DKI Jakarta untuk memperluas urban farming, dengan harapan dapat direplikasi di wilayah lain.

Pemerintah Kota Jakarta Timur mencatatkan panen perdana padi varietas Ciherang di kawasan Urban Farming Bali Lestari, Cakung, dengan perkiraan hasil mencapai 10 ton gabah dari lahan seluas 2,5 hektare. Keberhasilan ini menjadi sinyal bahwa lahan sempit di tengah kota tetap bisa dioptimalkan untuk mendukung ketersediaan pangan, sebuah langkah yang kian relevan di tengah tekanan alih fungsi lahan pertanian di Indonesia.
Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin, mengungkapkan bahwa penanaman padi yang dilakukan tiga bulan lalu bersama kelompok tani setempat itu merupakan bagian dari upaya mendorong pemanfaatan lahan tidur dan pekarangan warga. Selain padi, kelompok tani juga memanen jagung sebanyak 2,5 ton yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Panen ini bukan sekadar seremoni; ia menegaskan bahwa pertanian perkotaan bisa berjalan produktif jika ada kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan kelompok tani.
Keberhasilan ini tidak lepas dari peran Kelompok Tani Bali Lestari yang mengelola lahan tersebut. Ketua kelompok tani, Sulis, menyampaikan rasa syukur atas dukungan Pemkot Jakarta Timur dan PKK, seraya berkomitmen untuk terus menanam dan berkontribusi pada ketahanan pangan. Hasil panen padi rencananya akan dipasarkan, sementara jagung dipakai untuk pakan ternak, menunjukkan model pertanian yang terintegrasi dan bernilai ekonomi.
Bagi Jakarta, yang dikenal sebagai wilayah dengan lahan pertanian yang semakin sempit, inisiatif ini menjadi contoh konkret bagaimana ruang terbatas dapat diubah menjadi sumber pangan produktif. Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta sebelumnya mencatat ada lebih dari 1.600 lokasi urban farming yang tersebar di ibu kota. Angka ini menunjukkan bahwa gerakan serupa sebenarnya sudah berjalan, namun panen padi di Cakung ini menjadi bukti bahwa komoditas pangan pokok pun bisa dihasilkan di tengah kota.
Lebih jauh, keberhasilan ini menggarisbawahi pentingnya mengubah paradigma bahwa pertanian hanya bisa dilakukan di pedesaan. Di tengah isu ketahanan pangan nasional yang kerap menjadi sorotan, langkah seperti ini bisa menjadi salah satu solusi jangka pendek untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah. Namun, tantangan tetap ada, seperti keterbatasan air, kualitas tanah, dan dukungan teknis yang berkelanjutan.
Pemkot Jakarta Timur berencana terus mengimbau warganya untuk memanfaatkan pekarangan dengan tanaman pangan. Pertanyaannya, apakah model ini bisa direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik lahan yang berbeda? Jika ya, bukan tidak mungkin urban farming menjadi salah satu pilar ketahanan pangan perkotaan yang lebih serius di masa depan. Yang jelas, panen 10 ton padi di Cakung adalah bukti bahwa lahan sempit bukan halangan untuk berkontribusi pada ketersediaan pangan.



