Danau-danau Kashmir Menghilang: Krisis Air dan Ekonomi yang Mengancam Asia Selatan
Baca dalam 60 detik
- Laporan pemerintah India mencatat 315 dari 697 danau alami di Kashmir telah hilang sejak 1967, menyisakan krisis ekologi yang parah.
- Pencemaran limbah domestik, invasi tanaman air, dan perubahan iklim mempercepat penyusutan danau, mengancam mata pencaharian nelayan dan sektor pariwisata.
- Tanpa intervensi serius, warisan alam Kashmir dan ketahanan air di kawasan Himalaya akan semakin terdegradasi, dengan dampak yang berpotensi meluas hingga ke Indonesia.

Pemandangan shikara yang meluncur di atas permukaan Danau Dal yang tenang, dengan latar pegunungan Himalaya yang megah, mungkin masih menjadi ikon wisata Kashmir. Namun, di balik kartu pos itu, tersimpan realitas yang jauh lebih suram: danau-danau di wilayah tersebut sedang sekarat. Laporan pemerintah India tahun lalu mengungkapkan bahwa dari 697 danau alami di Kashmir, 315 telah hilang dan 203 lainnya menyusut sejak 1967. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan alarm bagi masa depan ekosistem, ekonomi, dan kehidupan jutaan orang.
Danau Dal, yang terletak di Srinagar, kota terpadat di Kashmir, menjadi contoh paling nyata. Setiap hari, puluhan pekerja pembersih gulma berjuang melawan invasi tanaman air yang tumbuh subur akibat limbah domestik yang mengalir langsung ke danau. Ghulam Rasool, salah satu pekerja, mengungkapkan bahwa mereka harus memakai sarung tangan untuk menghindari alergi kulit akibat air yang tercemar. "Kami takut menyentuh air dengan tangan kosong," katanya. "Saluran pembuangan mengalir langsung ke danau, dan aliran air dari gunung membawa sampah seperti popok dan kotoran lainnya."
Masalah ini tidak hanya melanda Danau Dal. Danau Wular, sekitar 65 kilometer barat laut Srinagar, juga mengalami nasib serupa. Danau yang menjadi penyangga utama banjir dari Sungai Jhelum ini telah menyusut 45% selama satu abad terakhir, menurut studi Wetlands International pada 2007. Para nelayan mengeluhkan pendapatan yang merosot tajam. Abdul Rasheed, nelayan berusia 45 tahun, dulu bisa memperoleh 1.000 rupee (sekitar Rp190 ribu) per hari, kini hanya 100-200 rupee (Rp19 ribu-Rp38 ribu) untuk semalam penuh. "Banyak perubahan sejak masa kecil saya," ujarnya.
Perubahan iklim menjadi faktor yang memperparah keadaan. Wilayah Himalaya memanas lebih cepat dari rata-rata global, menyebabkan pencairan salju lebih awal, curah hujan yang tidak menentu, dan cuaca ekstrem. Irfan Rashid, ilmuwan lingkungan dari Universitas Kashmir, menegaskan bahwa perubahan iklim telah menghancurkan setiap sektor ekonomi Kashmir, termasuk pembangkit listrik tenaga air, pariwisata, dan pertanian apel serta saffron yang bernilai tinggi. "Ini berdampak pada setiap sektor ekonomi kami," katanya.
Pencemaran limbah domestik dan pertanian, serta pembangunan yang tidak terencana, mempercepat degradasi. Tanaman air seperti eceng gondok tumbuh subur karena nutrisi dari limbah, menciptakan lapisan hijau yang menyesakkan. Di beberapa bagian Danau Wular, permukaan air tertutup gunk hijau, dan area tangkapan airnya telah diambil alih oleh perkebunan pohon. Para nelayan seperti Bashir Ahmed, 55 tahun, mengingat masa lalu ketika pemula pun bisa membawa pulang 4 kilogram ikan. "Sekarang, nelayan berpengalaman pun pulang dengan maksimal 1 kilogram," katanya.
Bagi Indonesia, kisah Kashmir ini adalah cermin yang tidak nyaman. Indonesia memiliki ribuan danau, termasuk Danau Toba, Danau Singkarak, dan Danau Tempe, yang menghadapi masalah serupa: sedimentasi, pencemaran limbah, dan alih fungsi lahan. Jika tidak ditangani dengan serius, bukan tidak mungkin nasib danau-danau di Indonesia akan mengikuti jejak Kashmir. Pertanyaannya, apakah pemerintah dan masyarakat Indonesia akan belajar dari tragedi ini sebelum terlambat?



