Manchester United Pangkas Skuad, 12 Pemain Hengkang demi Rebut Gelar Liga Champions
Baca dalam 60 detik
- Setan Merah mendatangkan enam pemain baru, termasuk Tielemans dan Santos, sambil melepas 12 pemain dalam bursa transfer musim panas 2026.
- Kebijakan ini menandai perombakan besar-besaran yang menyasar pemain senior berstatus kontrak habis, seperti Casemiro dan Sancho, untuk meremajakan skuad.
- Langkah agresif ini menjadi sinyal keseriusan MU bersaing di Liga Champions 2026/2027, sekaligus ujian bagi strategi rekrutmen jangka panjang klub.

Manchester United memasuki musim 2026/2027 dengan wajah skuad yang jauh berbeda. Klub peringkat ketiga Liga Inggris itu mengumumkan perombakan besar-besaran pada bursa transfer musim panas 2026: enam pemain anyar direkrut, sementara dua belas nama dilepas, baik secara permanen maupun pinjaman. Langkah ini bukan sekadar siklus transfer biasa, melainkan sinyal ambisi Setan Merah untuk kembali bersaing di papan atas Eropa setelah musim lalu hanya finis di posisi ketiga.
Dari jajaran rekrutan anyar, dua nama menonjol: gelandang berpengalaman Youri Tielemans yang datang dari Aston Villa dan Andrey Santos dari Chelsea. Keduanya diharapkan menjadi poros lini tengah yang lebih solid. Selain itu, MU juga menambah amunisi muda, seperti kiper Kit Margetson (19 tahun) dari Swansea City, gelandang Cristian Orozco (18 tahun) dari Fortaleza CEIF, dan winger Tynan Thompson (18 tahun) dari Tottenham Hotspur. Kehadiran Karl Darlow, kiper 35 tahun eks Leeds United, memberikan opsi pengalaman di bawah mistar.
Di sisi lain, kepergian sejumlah pemain menjadi sorotan. Rasmus Hojlund dijual permanen ke Napoli, sementara Casemiro, Jadon Sancho, dan Tyrell Malacia hengkang setelah kontraknya habis. Andre Onana dipinjamkan ke Trabzonspor. Keputusan melepas pemain-pemain senior ini dinilai sebagai upaya klub untuk memangkas beban gaji dan memberi ruang bagi generasi baru. Menurut analis sepak bola Eropa, kebijakan ini mencerminkan strategi MU yang lebih berani dalam regenerasi skuad, meski berisiko kehilangan pengalaman di momen krusial.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perombakan MU ini menarik untuk dicermati karena berdampak pada pasar transfer global, termasuk potensi datangnya pemain Asia Tenggara ke klub-klub Eropa. Meski belum ada nama dari Indonesia, kebijakan MU yang agresif merekrut pemain muda dari berbagai negara membuka peluang lebih luas bagi talenta Asia untuk dilirik klub-klub besar. Selain itu, keputusan melepas pemain senior dengan status bebas transfer menunjukkan tren klub-klub Eropa yang lebih selektif dalam manajemen kontrakโpelajaran yang relevan bagi klub-klub Indonesia yang mulai menerapkan profesionalisme serupa.
Langkah MU ini juga menjadi ujian bagi pelatih anyar yang diharapkan mampu memadukan pemain muda dan senior. Dengan target tampil kompetitif di Liga Champions, konsistensi performa menjadi kunci. Pertanyaannya, akankah kebijakan ini membawa MU kembali ke puncak kejayaan, atau justru menjadi bumerang karena kehilangan terlalu banyak pemain berpengalaman? Musim 2026/2027 akan menjadi jawabannya.



