Cadangan Devisa Juli Stabil di 145,3 Miliar Dolar AS, BI Andalkan Pajak dan Global Bond
Baca dalam 60 detik
- Posisi cadangan devisa Indonesia per akhir Juli 2026 tercatat 145,3 miliar dolar AS, hanya turun tipis 0,3 miliar dibanding bulan sebelumnya.
- Stabilitas ini ditopang penerimaan pajak, jasa, dan global bond, di tengah pembayaran utang dan intervensi nilai tukar rupiah.
- Dengan kecukupan impor 5,5 bulan, BI optimistis ketahanan eksternal tetap solid meski tekanan global masih membayangi.

Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa nasional pada akhir Juli 2026 mencapai 145,3 miliar dolar AS, hanya menyusut tipis 0,3 miliar dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 145,6 miliar dolar AS. Angka ini menandakan stabilitas yang dijaga ketat di tengah gejolak pasar keuangan global yang kembali meningkat.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengungkapkan bahwa pergerakan cadangan devisa bulan lalu dipengaruhi oleh dua arus yang berlawanan. Di satu sisi, penerimaan pajak, jasa, dan penerbitan global bond pemerintah menopang posisi tersebut. Namun, di sisi lain, pembayaran utang luar negeri dan intervensi stabilisasi nilai tukar rupiah menggerusnya.
Yang menarik, posisi Juli ini hanya turun tipis setelah pada Juni lalu cadangan devisa mencatat kenaikan pertama setelah lima bulan beruntun terkoreksi. Sejak puncaknya di 156,5 miliar dolar AS pada Desember 2025, cadangan sempat merosot hingga 144,9 miliar dolar AS pada Mei 2026, atau menyusut 11,6 miliar dolar AS dalam lima bulan. Kini, laju penurunan itu tampaknya telah tertahan.
Kecukupan cadangan devisa setara dengan 5,5 bulan impor, atau 5,3 bulan jika termasuk pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini masih jauh di atas standar kecukupan internasional yang sekitar 3 bulan impor. Ramdan menegaskan bahwa posisi ini mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Aliran modal asing menjadi salah satu penopang utama. Pada triwulan II 2026, investasi portofolio asing mencatat net inflows sebesar 8,5 miliar dolar AS, terutama dari Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Tren ini berlanjut hingga 20 Juli 2026, dengan SBN menyumbang net inflows tambahan 0,1 miliar dolar AS. Hal ini mencerminkan persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi nasional dan imbal hasil yang menarik.
Di sisi kebijakan moneter, BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur Juli 2026. Langkah ini diambil setelah sebelumnya bank sentral menaikkan bunga secara kumulatif sebesar 100 basis poin pada Mei dan Juni. Keputusan ini menunjukkan sikap hati-hati dalam menyeimbangkan stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi.
"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," ujar Ramdan dalam keterangan resminya.
Bagi pelaku pasar dan investor di Indonesia, kabar ini memberikan sinyal bahwa fundamental eksternal masih terjaga. Namun, pertanyaannya, apakah ketahanan ini akan bertahan jika tekanan global semakin deras? Dengan ketidakpastian yang masih membayangi, BI dan pemerintah perlu terus bersinergi menjaga momentum ini.
Ke depan, BI optimistis ketahanan sektor eksternal tetap baik, didukung aliran masuk modal asing dan persepsi positif investor. Namun, dinamika global bisa berubah cepat. Apakah cadangan devisa akan tetap stabil atau justru kembali terkikis? Semua bergantung pada bagaimana Indonesia merespons gejolak berikutnya.



