Ekonomi Filipina Terpukul: Pertumbuhan Kuartal II Terendah Sejak 2021, Skandal Korupsi Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- PDB Filipina kuartal II-2026 hanya tumbuh 2,3%, di bawah ekspektasi pasar dan target pemerintah.
- Kontraksi sektor konstruksi hingga 14,8% dan investasi yang menyusut memperparah perlambatan ekonomi.
- Bank sentral Filipina diperkirakan akan mempertimbangkan data ini dalam rapat kebijakan akhir Agustus, di tengah dilema antara mendukung pertumbuhan dan mengendalikan inflasi.

Ekonomi Filipina mencatat pertumbuhan terlemah dalam lima tahun terakhir pada kuartal kedua tahun ini, terseret oleh kontraksi sektor konstruksi dan melemahnya permintaan domestik. Badan statistik setempat melaporkan produk domestik bruto (PDB) hanya tumbuh 2,3% secara tahunan pada periode April-Juni, jauh di bawah perkiraan median analis yang disurvei Reuters sebesar 2,8% dan lebih rendah dari capaian kuartal sebelumnya yang sebesar 2,8%.
Perlambatan ini menempatkan target pertumbuhan pemerintah yang sebesar 3,5%-4,5% untuk tahun penuh dalam posisi yang semakin sulit dicapai. Pada semester pertama tahun ini, pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 2,6%, lebih rendah dari batas bawah target yang telah direvisi turun pada bulan Juni lalu. Pemerintah sebelumnya telah memangkas proyeksi pertumbuhan menyusul dampak krisis Timur Tengah dan skandal korupsi yang mengguncang kepercayaan investor.
Menteri Perencanaan Ekonomi Filipina, Arsenio Balisacan, mengakui hasil kuartal kedua ini menuntut langkah tegas, namun ia melihat secercah harapan dari indikator-indikator terkini. "Meskipun hasil kuartal kedua menuntut tindakan yang tegas, indikator-indikator terbaru memberi kami alasan untuk optimis secara hati-hati bahwa ekonomi mungkin sudah memasuki tahap awal pemulihan," ujarnya dalam konferensi pers. Pemerintah memperkirakan belanja infrastruktur akan meningkat pada kuartal berjalan seiring dimulainya proyek-proyek yang baru disetujui. Survei juga menunjukkan perbaikan kepercayaan bisnis dan kondisi produksi.
Balisacan menuding skandal korupsi yang mencuat tahun lalu terkait proyek pengendalian banjir sebagai pemicu utama perlambatan ini. Skandal tersebut telah membatasi belanja publik dan menggerus sentimen investor, terutama di sektor infrastruktur. Dampaknya terlihat jelas pada sektor konstruksi yang terkontraksi 14,8% pada kuartal kedua dibandingkan tahun sebelumnya, memburuk dari penurunan 4,3% pada kuartal pertama. Investasi juga menyusut 9,2%, menandai empat kuartal berturut-turut mengalami kontraksi.
Belanja rumah tangga yang menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi juga ikut melemah. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga turun ke 2,8% pada kuartal kedua dari 3,0% pada kuartal sebelumnya, akibat inflasi yang tinggi menggerus daya beli masyarakat. Rata-rata inflasi selama tujuh bulan pertama tahun ini mencapai 5,0%, jauh di atas target pemerintah sebesar 3,0%.
Data pertumbuhan yang lebih lemah dari perkiraan ini akan menjadi bahan pertimbangan dalam tinjauan kebijakan bank sentral Filipina pada 27 Agustus mendatang. Otoritas moneter dihadapkan pada dilema antara mendukung ekonomi yang melambat dan menahan laju inflasi yang masih tinggi. Dalam dua rapat terakhir, bank sentral telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin untuk menekan inflasi.
Bagi Indonesia, perlambatan ekonomi Filipina menjadi pengingat akan rapuhnya pertumbuhan di kawasan Asia Tenggara jika tidak dikelola dengan baik. Skandal korupsi yang berdampak pada belanja infrastruktur dan kepercayaan investor menunjukkan betapa pentingnya tata kelola yang bersih. Indonesia sendiri tengah gencar mendorong investasi infrastruktur, dan kasus Filipina ini bisa menjadi pelajaran berharga tentang risiko yang mengintai jika proyek-proyek strategis tidak dikelola secara transparan.
Ke depan, pemerintah Filipina berharap belanja infrastruktur yang mulai menggeliat dapat menjadi motor pemulihan. Namun, dengan target pertumbuhan jangka menengah sebesar 5%-6% untuk periode 2027-2030, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Manila mengatasi dampak skandal korupsi dan menjaga momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian global? Jawabannya akan menentukan tidak hanya arah ekonomi Filipina, tetapi juga stabilitas kawasan.



