Sutiyoso Ungkap Awal Mula Revolusi Transportasi Jakarta: Dari Busway Hingga MRT
Baca dalam 60 detik
- Sutiyoso mengungkap bahwa perencanaan transportasi massal Jakarta baru dimulai tahun 2003, setelah pemulihan pasca-kerusuhan 1998, dengan studi banding ke Bogota dan Belanda.
- Keterbatasan anggaran dan rendahnya kepercayaan investor pasca-krisis menjadi hambatan utama, sehingga pembangunan dimulai dari Busway yang lebih murah.
- Saat ini, Transjakarta telah menjadi tulang punggung transportasi publik Jakarta, meskipun tantangan integrasi dan perluasan masih berlanjut.

Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso membeberkan awal mula perjuangannya membangun sistem transportasi umum di ibu kota, yang kini menjadi fondasi bagi jaringan MRT, LRT, dan Transjakarta. Dalam peringatan HUT ke-499 Jakarta, ia menceritakan bahwa gagasan serius tentang transportasi massal baru mengemuka pada 2003, setelah pemerintah daerah lebih dulu fokus memulihkan kondisi sosial-ekonomi pasca-kerusuhan Mei 1998.
Menurut Sutiyoso, kemacetan kala itu sudah mencapai titik kritis dengan kerugian ekonomi yang besar. "Orang sering terlambat, jadi tidak produktif," ujarnya dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV. Untuk mencari solusi, ia membentuk tim yang terdiri dari akademisi dan pakar transportasi. Mereka melakukan penelitian mendalam guna mengidentifikasi akar masalah kemacetan di Jakarta.
Tak hanya mengandalkan riset internal, Sutiyoso juga melakukan studi banding ke sejumlah negara. Salah satu kota yang menjadi inspirasi adalah Bogota, Kolombia. Menurutnya, karakteristik Bogota—kepadatan penduduk dan ruas jalan—sangat mirip dengan Jakarta. Dari sana, ia mengenal konsep transportasi massal seperti MRT, monorel (yang kemudian berkembang menjadi LRT), dan bus rapid transit (BRT) atau Busway. Selain itu, kunjungan ke Belanda memberinya wawasan tentang pemanfaatan transportasi sungai.
Kondisi transportasi Jakarta saat itu sangat timpang. Sutiyoso menggambarkan bahwa angkutan umum yang ada jumlahnya sedikit dan dalam keadaan buruk—"ngebul-ngebul", seperti yang ia katakan. Sementara itu, kendaraan pribadi mendominasi jalan raya. Pemerintah provinsi kemudian menyusun pola transportasi makro yang mencakup tiga moda: MRT, LRT, dan Busway, dengan total 15 koridor. Namun, keterbatasan anggaran menjadi batu sandungan. Sutiyoso mengakui bahwa Jakarta tidak memiliki dana yang cukup, dan kepercayaan investor masih rendah akibat dampak kerusuhan 1998.
Meski demikian, Sutiyoso menegaskan bahwa rencana jangka panjang tidak akan pernah terwujud jika tidak dimulai. "Kalau rencana yang dirancang oleh tim ini yang saya yakini menyelesaikan masalah jangka panjang, tidak pernah kita mulai, ya nggak akan pernah terwujud," katanya. Pemprov pun memutuskan memulai dari Busway, sistem yang relatif murah karena hanya memerlukan separator, bus, dan sopir. Koridor pertama yang dibangun adalah rute Blok M–Kota, yang merupakan jalur dengan mobilitas tertinggi.
Kini, dua dekade setelah langkah awal tersebut, Transjakarta telah menjadi primadona transportasi masyarakat Jakarta. Meskipun masih menghadapi tantangan integrasi antarmoda dan perluasan jangkauan, warisan Sutiyoso menjadi fondasi bagi sistem transportasi massal yang terus berkembang. Pertanyaannya, mampukah pemerintah saat ini menyelesaikan 15 koridor yang direncanakan dan mewujudkan integrasi penuh dengan MRT serta LRT?



