Kengerian di Begusarai: Perampokan Brutal dan Pengabaian Sistem Mengguncang India
Baca dalam 60 detik
- Seorang ibu empat anak di Bihar menjadi korban pemerkosaan beramai-ramai dengan penyiksaan menggunakan benda asing, mengingatkan pada kasus Delhi 2012.
- Polisi dan rumah sakit setempat dituduh lalai, baru bertindak setelah korban mengeluarkan selongsong peluru dari tubuhnya.
- Aktivis menilai hukuman mati belum menimbulkan efek jera, dengan lebih dari 30.000 kasus perkosaan tercatat setiap tahun di India.

Tiga belas tahun setelah pemerkosaan brutal seorang mahasiswi di bus Delhi yang mengguncang dunia, India kembali dihadapkan pada kekejaman serupa. Seorang ibu muda di pedesaan Bihar mengalami penyiksaan yang tak kalah mengerikan, sekaligus mengungkap kegagalan sistem dalam melindungi korban kekerasan seksual.
Soma (bukan nama sebenarnya), 28 tahun, diserang di rumahnya sendiri pada malam 11 Juni oleh lima pria. Mereka tidak hanya memperkosanya, tetapi juga memasukkan benda-benda tajam, termasuk selongsong peluru, ke dalam tubuhnya. Peristiwa ini terjadi di Begusarai, salah satu distrik termiskin di India, di mana toilet tanpa pintu hanya bertirai menjadi saksi bisu kekejaman itu.
Suami Soma, seorang pengemudi e-rickshaw, awalnya mengira erangan istrinya adalah suara kucing. Ketika ia curiga dan mencoba memeriksa, rumah ternyata dikunci dari luar. Tetangga yang membuka pintu menyaksikan Soma dalam kondisi mengenaskan. Namun, perjalanan mencari keadilan justru menjadi penderitaan baru.
Alih-alih mendapat pertolongan, Soma dan suaminya berhadapan dengan birokrasi yang dingin. Polisi di stasiun terdekat menolak membuat laporan dan menyuruh mereka pergi ke dokter. Baru pada 13 Juni, setelah tekanan publik, polisi setempat mencatat laporan resmi dan membentuk tim investigasi khusus. Kepala polisi Rajiv Kumar diskors karena "kelalaian, apati, dan ketidakpekaan".
Di rumah sakit, Soma mengaku ditanya dengan nada meremehkan oleh dokter saat diinfus: "Apakah Anda juga diperkosa?" Padahal ia sudah menjelaskan kondisinya. Puncaknya, seorang dukun beranak di desa menemukan ada benda asing di dalam rahim Soma. Pada 18 Juni, selongsong peluru keluar dari vaginanya, memicu penyelidikan lebih serius. Dokter kemudian mengeluarkan benda lain dari tubuhnya.
Kasus ini memicu perbandingan dengan tragedi Delhi 2012, yang mendorong perubahan undang-undang termasuk hukuman mati bagi pemerkosa. Namun, aktivis Yogita Bhayana menilai tidak ada perubahan berarti. "Lebih dari 30.000 kasus perkosaan tercatat setiap tahun. Masyarakat menjadi mati rasa terhadap kekejaman ekstrem," ujarnya. Ia menambahkan bahwa media hanya tertarik karena sensasi selongsong peluru, bukan karena kepedulian pada korban.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa kekerasan seksual masih menjadi masalah sistemik di banyak negara. Rendahnya angka pelaporan, stigma korban, dan ketidakpekaan aparat adalah tantangan bersama. Meski Indonesia memiliki Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS), implementasi di daerah terpencil masih lemah. Kasus Begusarai menunjukkan bahwa tanpa pengawasan ketat dan perubahan budaya, hukuman berat sekalipun tidak akan menimbulkan efek jera.
Soma kini masih terbaring di rumah sakit, dikelilingi wartawan dan politisi yang silih berganti. Ia merindukan anak-anaknya yang dirawat kerabat 35 km dari sana. "Saya sangat khawatir pada mereka. Mereka masih kecil. Saya ingin pulang," ujarnya lirih. Pertanyaan besarnya: apakah sistem akan benar-benar berubah, atau hanya akan ada korban berikutnya yang menunggu giliran?



