Intervensi Yen Terbesar dalam Sehari: Jepang Gelontorkan Rp 640 Triliun demi Selamatkan Mata Uang
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Keuangan Jepang mencatat intervensi beli yen senilai 6,28 triliun yen (sekitar Rp 640 triliun) pada 30 April, rekor harian tertinggi sejak 1991.
- Langkah ini sempat mengangkat yen dari titik terlemahnya, tetapi gagal membalikkan tren pelemahan; yen kembali merosot ke level terendah 40 tahun pada Juli.
- Tokyo kini berkoordinasi dengan Washington untuk intervensi bersama, menandakan kekhawatiran global atas volatilitas mata uang yang berdampak pada pasar Asia, termasuk Indonesia.

Tokyo, 7 Agustus 2024 โ Pemerintah Jepang mengonfirmasi telah melakukan intervensi pasar valuta asing dengan nilai harian terbesar dalam sejarah pada akhir April lalu, menjual dolar AS senilai sekitar 40 miliar dolar dalam satu hari untuk menopang yen yang terpuruk. Data kuartalan dari Kementerian Keuangan (MOF) yang dirilis Jumat (7/8) mengungkap bahwa operasi terbesar terjadi pada 30 April, mencapai 6,28 triliun yen (sekitar Rp 640 triliun), melampaui rekor sebelumnya sebesar 5,92 triliun yen pada 29 April 2024.
Intervensi ini dilakukan selama tiga hari berturut-turut, dari 30 April hingga 6 Mei, bertepatan dengan libur Golden Week di Jepang ketika likuiditas pasar menipis. Total intervensi pada periode 28 April hingga 27 Mei mencapai 11,7 triliun yen, dan rincian hariannya kini dipublikasikan untuk pertama kalinya. Langkah ini merupakan respons atas pelemahan yen yang menyentuh level terendah dalam dua tahun, yakni 160,725 per dolar AS, sebelum intervensi berhasil mengangkatnya ke kisaran 155 pada 6 Mei.
Meski demikian, efek intervensi tersebut tidak bertahan lama. Yen kembali terdepresiasi tajam dan pada Juli menembus level 163 per dolar AS, terlemah dalam 40 tahun terakhir. Kondisi ini memaksa Tokyo untuk kembali turun tangan pekan lalu, namun kali ini dengan koordinasi langsung bersama Washington. Langkah bersama ini menandakan kekhawatiran global terhadap volatilitas mata uang yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi regional.
Bagi Indonesia, dinamika yen ini memiliki implikasi yang tidak bisa diabaikan. Sebagai negara dengan hubungan dagang dan investasi yang erat dengan Jepang, pelemahan yen yang berkepanjangan dapat mempengaruhi daya saing ekspor Indonesia dan arus investasi asing langsung. Selain itu, volatilitas mata uang regional seringkali memicu gejolak di pasar keuangan domestik, termasuk nilai tukar rupiah. Bank Indonesia pun perlu mencermati kebijakan intervensi Jepang sebagai bagian dari dinamika global yang mempengaruhi stabilitas makroekonomi nasional.
Para analis menilai bahwa intervensi Jepang, meskipun masif, hanya memberikan efek sementara karena fundamental ekonomi Jepang yang masih lemah, terutama suku bunga yang rendah dan pertumbuhan yang lambat. "Intervensi semacam ini hanya mengulur waktu, bukan solusi jangka panjang," ujar seorang ekonom di Tokyo. "Tanpa perubahan kebijakan moneter yang lebih fundamental, tekanan terhadap yen akan terus berlanjut."
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah koordinasi dengan Amerika Serikat akan mampu mengubah arah pergerakan yen, atau justru memicu perang mata uang yang lebih luas. Bagi pasar Asia, termasuk Indonesia, stabilitas yen menjadi salah satu indikator penting yang menentukan arah modal asing dan kinerja ekspor. Jika yen terus melemah, bukan tidak mungkin negara-negara lain akan mengikuti langkah intervensi, menciptakan dinamika baru dalam ekonomi global yang penuh ketidakpastian.



