Rupiah Berpotensi Tertekan: Data Tenaga Kerja AS dan Ketegangan Hormuz Bayangi Mata Uang Asia
Baca dalam 60 detik
- Ringgit Malaysia dibuka bervariasi terhadap mata uang utama, dengan posisi yang hampir tidak berubah terhadap dolar AS di tengah antisipasi rilis data non-farm payrolls (NFP) Amerika Serikat.
- Konflik di Selat Hormuz memicu kenaikan harga minyak mentah dan mendorong penguatan dolar sebagai aset aman, menambah tekanan pada mata uang kawasan termasuk rupiah.
- Para analis memperkirakan pergerakan ringgit akan berada dalam rentang sempit hari ini, sementara pelaku pasar menanti sinyal kebijakan The Fed dari data ketenagakerjaan yang akan dirilis malam nanti.

Pasar keuangan Asia dibuka dengan nada waspada pada Jumat pagi (8/8/2026) setelah ringgit Malaysia nyaris stagnan terhadap dolar AS, sementara sentimen risiko memburuk akibat eskalasi ketegangan di Selat Hormuz. Kondisi ini menjadi sinyal awal bahwa mata uang kawasan, termasuk rupiah, berpotensi menghadapi tekanan di tengah tunggu rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang dinanti pelaku pasar.
Pada pembukaan perdagangan pukul 08.05 waktu setempat, ringgit diperdagangkan di level 4,0895 per dolar AS, sedikit melemah dari posisi penutupan Kamis di 4,0875. Pelemahan tipis ini terjadi di tengah menguatnya indeks dolar AS (DXY) sebesar 0,25 persen ke level 99,93 poin, didorong oleh data klaim pengangguran awal yang tetap berada di bawah 200.000 selama tiga minggu berturut-turut, mengindikasikan pasar tenaga kerja AS yang masih solid.
Kepala ekonom Bank Muamalat Malaysia, Mohd Afzanizam Abdul Rashid, menilai laporan non-farm payrolls (NFP) yang akan dirilis malam ini berpotensi mendorong dolar AS lebih tinggi. Konsensus pasar memperkirakan penambahan lapangan kerja Juli mencapai 88.000, membaik dari 57.000 pada Juni. Jika data tersebut sesuai atau melampaui ekspektasi, penguatan dolar berpotensi berlanjut dan menekan mata uang kawasan, termasuk rupiah yang saat ini juga tengah bergulat dengan tekanan eksternal.
Di sisi lain, strategis global Quintex Intel, Stephen Innes, menyoroti faktor geopolitik sebagai pemicu utama. Serangan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terhadap pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh, termasuk pendukung AS dan Israel, telah memicu kekhawatiran baru atas keamanan regional dan kelancaran pasokan energi. Akibatnya, harga minyak mentah melonjak semalam, sementara dolar AS justru diuntungkan sebagai aset aman. Kombinasi ini, menurut Innes, dapat membuat ringgit dan mata uang Asia lainnya bertahan defensif.
Terhadap sejumlah mata uang utama, ringgit mencatat pergerakan bervariasi. Mata uang Negeri Jiran ini menguat tipis terhadap yen Jepang ke 2,5808, naik terhadap euro ke 4,7123, namun melemah terhadap poundsterling Inggris ke 5,5020. Di kawasan regional, ringgit menguat terhadap dolar Singapura ke 3,1860 dan baht Thailand ke 12,3442, tetapi hampir tidak berubah terhadap peso Filipina dan sedikit melemah terhadap rupiah Indonesia ke level 228,1.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi pengingat akan kerentanan mata uang kawasan terhadap gejolak eksternal. Rupiah yang saat ini diperdagangkan di kisaran 16.200-an per dolar AS berpotensi mengalami tekanan tambahan jika dolar terus menguat pasca rilis NFP. Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan tetap waspada dan melakukan intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar, sebagaimana yang telah dilakukan dalam beberapa pekan terakhir.
Para analis memperkirakan pergerakan ringgit hari ini akan berada dalam rentang 4,08 hingga 4,10 per dolar AS. Namun, arah yang lebih jelas baru akan terlihat setelah data NFP dirilis. Jika data tenaga kerja AS menunjukkan kekuatan, dolar berpotensi menguat lebih lanjut, yang dapat memicu pelemahan lebih dalam pada mata uang Asia. Sebaliknya, jika data mengecewakan, tekanan terhadap dolar bisa mereda dan memberi ruang bagi mata uang kawasan untuk pulih.
Pertanyaannya kini, akankah data NFP malam ini menjadi penentu arah pergerakan rupiah dan mata uang Asia lainnya dalam beberapa pekan ke depan? Atau justru faktor geopolitik di Timur Tengah yang akan mendominasi sentimen pasar? Yang jelas, volatilitas masih akan menjadi ciri khas perdagangan mata uang di kawasan ini.



