Setelah 20 Tahun Mandek, Bandara Enugu Akhirnya Dikelola Swasta
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Nigeria resmi menyerahkan pengelolaan Bandara Internasional Akanu Ibiam, Enugu, kepada konsorsium Aero Alliance Limited melalui skema Kemitraan Publik-Swasta.
- Kesepakatan ini terwujud berkat lobi Gubernur Peter Mbah yang meyakinkan Presiden Tinubu untuk menjadikan Enugu sebagai pusat penerbangan dan investasi.
- Konsesi ini diharapkan memutus rantai keterbatasan logistik yang selama ini menghambat pertumbuhan ekonomi di kawasan Tenggara Nigeria.

Setelah dua dekade gagal menarik minat investor, Pemerintah Nigeria akhirnya menyerahkan pengelolaan Bandara Internasional Akanu Ibiam (AIIA) di Enugu kepada konsorsium swasta Aero Alliance Limited. Langkah ini menandai babak baru dalam upaya mengubah bandara yang sempat dihindari investor itu menjadi gerbang ekonomi kawasan Tenggara Nigeria.
Dalam seremoni penyerahan yang digelar di terminal internasional bandara, Kamis lalu, Menteri Penerbangan dan Pengembangan Dirgantara, Festus Keyamo, mengungkapkan bahwa selama dua dekade terakhir berbagai pemerintahan sebelumnya gagal mengkonsesi bandara ini. Ironisnya, saat proses lelang dibuka pada era administrasi sebelumnya, tidak ada satu pun penawar untuk Enugu dan Port Harcourt. "Semua orang berebut Lagos, Kano, dan Abuja karena mereka menginginkan makanan siap saji," ujar Keyamo, mengibaratkan bandara-bandara besar yang sudah mapan.
Namun, situasi berbalik di bawah kepemimpinan Presiden Bola Tinubu dan Gubernur Enugu, Peter Mbah. Kini justru Lagos, Abuja, dan Kano yang tidak memiliki penawar, sementara Enugu dan Port Harcourt sudah diamankan. Menurut Keyamo, perubahan ini tidak lepas dari inisiatif Mbah yang langsung menemui Presiden beberapa pekan setelah dilantik dengan membawa rencana pengembangan bandara. "Presiden memberi arahan untuk memberikan semua bantuan yang diperlukan guna menjadikan Enugu sebagai pusat penerbangan dan investasi," tambah Keyamo.
Direktur Jenderal Komisi Regulasi Konsesi Infrastruktur (ICRC), Jobson Ewalefoh, menyebut konsesi ini sebagai tonggak sejarah bagi Nigeria. Ia menekankan bahwa reputasi Gubernur Mbah menjadi faktor penarik modal. "Enugu Air dan perjanjian yang ditandatangani dari Guangzhou ke Enugu menciptakan lalu lintas yang cukup untuk menjadikan bandara ini layak secara ekonomi," jelasnya. Ewalefoh juga mengapresiasi komitmen Mbah dalam membangun infrastruktur.
Gubernur Mbah sendiri menyambut baik konsesi ini sebagai awal baru bagi potensi ekonomi kawasan Tenggara. Selama ini, pelaku bisnis di wilayah tersebut menghadapi kendala logistik yang meningkatkan biaya, memperpanjang waktu pengiriman, dan membatasi daya saing. "Kami berharap generasi mendatang akan melihat hari ini sebagai momen ketika AIIA mulai bertransformasi menjadi bandara kelas dunia yang menghubungkan Nigeria dengan dunia," ujar Mbah. Ia juga mengundang investor yang masih ragu untuk menanamkan modal di Enugu.
Managing Director Aero Alliance, Saleem Hussain, berjanji akan memanfaatkan pengalaman lebih dari tiga dekade di sektor penerbangan untuk fokus pada konektivitas, kargo dan logistik, pengalaman penumpang, pengembangan komersial, serta keunggulan teknologi dan operasional. Targetnya, menjadikan AIIA sebagai salah satu pusat penerbangan terkemuka di Afrika. Sementara itu, Managing Director Otoritas Bandara Federal Nigeria (FAAN), Olubunmi Kuku, yang diwakili oleh Direktur Urusan Publik dan Perlindungan Konsumen, Henry Agbebire, menegaskan komitmen FAAN untuk memastikan konsesi ini berjalan demi manfaat sosial-ekonomi bagi kawasan dan negara secara keseluruhan.
Keyamo juga meredakan kekhawatiran akan pemutusan hubungan kerja dengan menyatakan bahwa perjanjian dengan Aero Alliance justru akan menciptakan lapangan kerja baru. Pertanyaan yang kini mengemuka: sejauh mana konsesi ini mampu mengubah Enugu menjadi pusat aviasi yang kompetitif di kawasan Afrika Barat, dan akankah model ini diikuti oleh bandara-bandara lain di Nigeria?



