AI Mengancam Pekerjaan Perempuan: Data Australia Ungkap Sektor Administrasi Paling Rentan
Baca dalam 60 detik
- Analisis Jobs and Skills Australia menunjukkan 15 dari 20 pekerjaan paling rentan terhadap otomatisasi AI didominasi perempuan, seperti sekretaris dan petugas penggajian.
- Lowongan pekerjaan di sektor administratif turun hingga 22% dalam setahun, sementara pekerjaan teknis seperti teknisi listrik justru meningkat 14,3%.
- Para ahli mendesak pemerintah Australia untuk menerapkan analisis gender dalam kebijakan AI guna mencegah kesenjangan yang lebih lebar.

Gelombang kecerdasan buatan (AI) yang merambah pasar tenaga kerja global membawa kekhawatiran baru: bukan hanya soal siapa yang akan tergantikan, tetapi juga siapa yang paling rentan. Data terbaru dari badan resmi Australia, Jobs and Skills Australia, mengungkap temuan yang mengejutkan—pekerjaan yang didominasi perempuan justru memiliki tingkat eksposur tertinggi terhadap otomatisasi AI, bertolak belakang dengan asumsi umum bahwa sektor perawatan yang banyak melibatkan interaksi manusia akan lebih aman.
Lembaga tersebut menghitung "skor eksposur otomatisasi" untuk setiap profesi, mengukur sejauh mana tugas-tugas pekerjaan dapat digantikan oleh teknologi AI. Hasilnya, pekerjaan administratif dan klerikal—seperti sekretaris, resepsionis, pembukuan, serta petugas akuntansi dan penggajian—menempati peringkat tertinggi dalam risiko tergantikan. Sektor ini tidak hanya padat karya, tetapi juga didominasi oleh perempuan: lebih dari 70% tenaga kerjanya adalah perempuan, dan menyediakan hampir satu dari lima lapangan kerja bagi perempuan Australia.
Fenomena ini semakin jelas ketika melihat 20 pekerjaan paling berisiko. Lima belas di antaranya didominasi perempuan, dan lima di antaranya bahkan memiliki komposisi perempuan di atas 80%. Sebaliknya, dari 20 pekerjaan yang paling aman dari AI, tujuh belas di antaranya didominasi laki-laki, seperti tukang batu dan teknisi listrik. Hanya tiga pekerjaan yang didominasi perempuan yang masuk dalam kategori aman tersebut.
Data lowongan kerja dari Jobs and Skills Australia memperkuat kekhawatiran ini. Dalam tiga tahun terakhir, lowongan untuk pekerjaan administratif menyusut jauh lebih tajam dibandingkan rata-rata nasional. Pada Juni 2026, lowongan asisten pribadi dan pembukuan turun sekitar 22% dibandingkan tahun sebelumnya, sementara lowongan juru tulis umum turun 9%. Angka ini kontras dengan penurunan total lowongan kerja yang hanya 1,7%. Di sisi lain, lowongan untuk pekerjaan yang kurang terpapar AI justru meningkat: tukang batu naik 5,5% dan teknisi listrik melonjak 14,3%.
Pola ini menunjukkan bahwa AI tidak netral gender. Pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang, yang banyak diisi perempuan, memang menjadi sasaran empuk otomatisasi. Sementara itu, pekerjaan yang membutuhkan keterampilan fisik dan penilaian manusia di lokasi yang tidak terduga—yang sering didominasi laki-laki—cenderung lebih sulit digantikan. Para peneliti menegaskan bahwa tanpa lensa gender yang disengaja, kebijakan AI berisiko mengabaikan dampak yang tidak proporsional terhadap perempuan.
Pemerintah Australia sebenarnya telah mewajibkan analisis gender untuk setiap kebijakan baru. Namun, para ahli mendesak agar kewajiban ini juga diterapkan pada keputusan Office of AI yang baru dibentuk. Dengan menerapkan lensa gender, kebijakan dapat dirancang untuk mendukung adaptasi pasar tenaga kerja, misalnya dengan mengidentifikasi keterampilan yang dapat dialihkan dari pekerja administratif ke bidang baru yang muncul seiring perkembangan AI.
Bagi Indonesia, pelajaran dari Australia ini sangat relevan. Sektor administrasi di Indonesia juga banyak diisi perempuan, dan adopsi AI di sektor korporasi semakin cepat. Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, gelombang otomatisasi dapat memperlebar kesenjangan gender di pasar kerja. Pemerintah Indonesia perlu mempertimbangkan analisis dampak AI yang sensitif gender, serta menyiapkan program pelatihan ulang bagi pekerja yang paling rentan.
Pertanyaan yang muncul kemudian: apakah Indonesia siap menghadapi pergeseran ini, atau akan membiarkan AI memperdalam ketidaksetaraan yang sudah ada? Jawabannya tergantung pada seberapa cepat kita bergerak—sebelum dampaknya menjadi tidak terelakkan.



