Singapura Berduka: Presiden Tharman Kenang Jasa Francisco Guterres bagi Timor Leste
Baca dalam 60 detik
- Mantan Presiden Timor Leste Francisco Guterres meninggal di Malaysia pada usia 71 tahun, memicu gelombang belasungkawa dari pemimpin regional.
- Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam menyebut Guterres sebagai tokoh kunci dalam membangun demokrasi dan persatuan Timor Leste.
- Timor Leste menetapkan masa berkabung nasional selama sepekan, dengan pengibaran bendera setengah tiang di seluruh institusi publik.

Singapura menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya mantan Presiden Timor Leste, Francisco Guterres, yang meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Malaysia pada Minggu (22/6) dalam usia 71 tahun. Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam, dalam surat kepada Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta, menegaskan bahwa Guterres adalah sosok yang mengabdikan hidupnya untuk bangsa dan negara.
Guterres, yang menjabat sebagai presiden keenam Timor Leste periode 2017–2022, dikenal sebagai pejuang kemerdekaan yang konsisten. Sebelum menjadi kepala negara, ia terlibat aktif dalam perjuangan panjang melawan pendudukan asing. Menurut Tharman, kontribusi Guterres dalam memperkuat institusi demokrasi dan merawat persatuan nasional akan selalu dikenang.
“Presiden Guterres mengabdikan hidupnya untuk Timor Leste. Dalam perjuangan kemerdekaan dan kemudian sebagai presiden, ia memainkan peran krusial dalam memperkuat institusi demokrasi dan memupuk persatuan nasional,” tulis Tharman dalam suratnya. Ia menambahkan bahwa komitmen Guterres membangun Timor Leste yang berdaulat dan merdeka akan “selamanya diingat”.
Pemerintah Timor Leste telah mengumumkan masa berkabung nasional selama sepekan sejak Senin (23/6). Bendera negara dikibarkan setengah tiang di semua gedung publik, termasuk kantor perwakilan diplomatik di luar negeri. Presiden Ramos-Horta, yang mengalahkan Guterres dalam pemilu 2022, menyebut mantan rivalnya itu sebagai “patriot besar” dan kepergiannya merupakan “kehilangan besar bagi bangsa”.
Keluarga Guterres meminta privasi di tengah arus duka yang mengalir dari berbagai kalangan. “Kami meminta semua pihak untuk menghormati privasi keluarga di masa sulit ini, sembari kami berdoa dan memberikan penghormatan atas kenangan, warisan, dan dedikasinya kepada rakyat Timor Leste,” demikian pernyataan keluarga.
Bagi Indonesia, kepergian Guterres menjadi pengingat akan pentingnya stabilitas politik di kawasan. Timor Leste, yang berbatasan darat dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur, memiliki hubungan historis dan kultural yang erat dengan Indonesia. Masa transisi kepemimpinan pasca-Guterres akan menjadi perhatian, mengingat negara tersebut masih menghadapi tantangan pembangunan ekonomi dan penguatan institusi. Ke depan, bagaimana Ramos-Horta dan pemerintahan baru Timor Leste melanjutkan warisan demokrasi yang dirintis Guterres akan menjadi kunci bagi masa depan negara termuda di Asia Tenggara itu.



