15 Tahun Program Pinjam Mobil Sukarela: Kisah Solidaritas dari Tsunami Jepang
Baca dalam 60 detik
- Sejak 2011, Japan Car Sharing Association telah meminjamkan lebih dari 2.300 kendaraan kepada korban bencana di Jepang, namun permintaan masih jauh melebihi pasokan.
- Inisiatif ini berawal dari sukarelawan yang melihat kesulitan warga kehilangan mobil akibat tsunami, lalu menggalang donasi kendaraan untuk dipinjamkan gratis.
- Program ini menghadapi tantangan biaya kepemilikan dan keterbatasan armada, mendorong kerja sama dengan pemerintah daerah untuk memaksimalkan utilitas kendaraan.

Lima belas tahun setelah gelombang tsunami dahsyat meluluhlantakkan pesisir timur laut Jepang pada Maret 2011, sebuah program pinjam mobil sukarela yang lahir dari kepedihan warga Ishinomaki masih bertahan—dan terus berjuang memenuhi kebutuhan transportasi darurat yang kian mendesak. Inisiatif yang dirintis oleh Takehiko Yoshizawa pada Oktober 2011 ini telah berkembang menjadi Japan Car Sharing Association, sebuah jaringan nasional yang menyediakan kendaraan gratis bagi para penyintas bencana.
Tsunami yang merenggut puluhan ribu nyawa itu juga menghancurkan sekitar 60.000 kendaraan di Ishinomaki saja. Para pengungsi yang dipindahkan ke hunian sementara di daerah terpencil mendadak terisolasi dari rumah sakit, pasar, dan layanan dasar lainnya. Yoshizawa, yang saat itu menjadi relawan dari Prefektur Hyogo, menyaksikan sendiri penderitaan mereka. “Begitu banyak orang kesulitan berpindah tempat,” kenang Hisayo Aizawa, 69 tahun, warga Ishinomaki yang kehilangan rumah, toko keluarga, dan empat mobilnya akibat tsunami. Setelah meminjam kendaraan dari asosiasi, Aizawa mulai membantu tetangga lansia pergi ke rumah sakit dan berbelanja, hingga akhirnya bergabung sebagai staf tetap.
Hingga kini, asosiasi telah menyalurkan lebih dari 2.300 kendaraan donasi dari industri otomotif, perusahaan, dan individu, merespons lebih dari 10.000 permintaan di 35 bencana. Namun, kesenjangan antara pasokan dan permintaan terus melebar. Setelah hujan deras dan tanah longsor menerjang Pulau Kyushu pada 2025, asosiasi menerima lebih dari 2.500 permintaan tetapi hanya mampu memenuhi sekitar 30 persennya. Saat ini, asosiasi hanya mengoperasikan sekitar 600 kendaraan di seluruh Jepang. “Itu sangat tidak cukup,” ujar Yoshizawa. “Kami membutuhkan lebih dari 4.000 kendaraan setelah bencana sebesar tsunami 2011.”
Untuk mengatasi keterbatasan, asosiasi mendorong pengemudi yang menyerahkan SIM untuk mendonasikan kendaraannya. Mereka juga menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah agar kendaraan dapat digunakan untuk layanan publik di masa normal dan dikembalikan saat bencana terjadi. Pada Januari lalu, asosiasi menandatangani perjanjian dengan Asosiasi Wali Kota Jepang untuk mengamankan tempat parkir dan fasilitas kantor saat darurat. Meski demikian, biaya kepemilikan seperti pajak masih menjadi beban berat. “Mobil sangat penting untuk kehidupan sehari-hari di daerah pedesaan, tetapi tidak ada sistem untuk menilai kerusakan kendaraan setelah bencana,” keluh Yoshizawa.
Di balik setiap kendaraan, ada cerita yang sengaja disampaikan staf kepada penerima pinjaman. “Setiap kendaraan memiliki kisahnya sendiri,” kata Yoshizawa. “Kami akan memperluas program ini untuk membantu lebih banyak korban bencana.” Bagi Indonesia, yang juga rawan gempa dan tsunami, model pinjam mobil sukarela ini bisa menjadi inspirasi. Ketiadaan sistem asuransi kendaraan bencana yang memadai dan minimnya transportasi umum di daerah terpencil membuat inisiatif serupa relevan untuk diadaptasi. Pertanyaannya, mampukah Indonesia membangun jaringan solidaritas serupa sebelum bencana berikutnya datang?



