Bank Sentral Nigeria Kerek Suku Bunga OMO di Atas 20%, Serap Likuiditas Rp 27 Triliun
Baca dalam 60 detik
- CBN meraup N2,7 triliun (sekitar Rp 27 triliun) dari lelang OMO dengan tingkat imbal hasil di atas 20%, tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.
- Langkah ini merupakan bagian dari strategi pengetatan moneter untuk menyerap kelebihan likuiditas perbankan dan menekan tekanan inflasi di Nigeria.
- Permintaan investor yang sangat tinggi, mencapai N2,7 triliun, mencerminkan ekspektasi suku bunga tinggi masih berlanjut di pasar uang Nigeria.

Bank Sentral Nigeria (CBN) berhasil mengumpulkan dana sebesar N2,7 triliun atau setara Rp 27 triliun dalam lelang Open Market Operation (OMO) yang digelar Senin lalu, dengan tingkat imbal hasil (stop rate) menembus angka 20 persen. Langkah ini menjadi sinyal keras bank sentral dalam upaya mengerem laju inflasi yang terus menggerogoti daya beli masyarakat.
Dalam lelang tersebut, CBN menawarkan dua seri surat berharga OMO dengan total nilai N600 miliar, terdiri dari tenor 99 hari senilai N300 miliar dan tenor 134 hari senilai N300 miliar. Namun, antusiasme investor jauh melampaui target. Total penawaran yang masuk mencapai N2,7 triliun, dengan rincian N658 miliar untuk tenor pendek dan N2,052 triliun untuk tenor lebih panjang. CBN hanya mengakomodasi seluruh permintaan untuk tenor 99 hari, sementara untuk tenor 134 hari, bank sentral hanya mengalokasikan N2,016 triliun dari total penawaran, menolak sisanya.
Stop rate yang ditetapkan CBN untuk tenor 99 hari dan 134 hari masing-masing sebesar 20,40 persen dan 20,02 persen. Angka ini mencerminkan biaya pinjaman yang tinggi di pasar uang Nigeria, sejalan dengan kebijakan moneter ketat yang dijalankan otoritas. Para analis menilai langkah ini merupakan bagian dari strategi CBN untuk menyerap kelebihan likuiditas di sistem perbankan, yang dinilai dapat memicu kredit berlebihan dan memperburuk inflasi.
Kondisi likuiditas yang melimpah di sistem keuangan Nigeria menjadi salah satu pendorong tingginya permintaan. Data sebelumnya menunjukkan kelebihan likuiditas perbankan sempat melonjak 37 persen, dengan bank-bank mengunci dana hingga N5 triliun di fasilitas Standing Deposit Facility (SDF). Fenomena ini mendorong CBN untuk lebih agresif dalam operasi pasar terbuka guna mengendalikan jumlah uang beredar.
Meskipun berita ini berfokus pada Nigeria, dinamika serupa juga relevan bagi Indonesia. Bank Indonesia (BI) kerap menggunakan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan operasi pasar terbuka untuk mengelola likuiditas dan menekan inflasi. Tingginya imbal hasil OMO Nigeria mencerminkan tekanan inflasi yang masih tinggi di negara tersebut, mengingatkan bahwa kebijakan moneter ketat masih menjadi pilihan utama bank sentral di negara berkembang untuk menjaga stabilitas harga.
Ke depan, investor akan mencermati apakah CBN akan melanjutkan tren kenaikan suku bunga OMO atau mulai melonggarkan kebijakan seiring tanda-tanda inflasi melandai. Pertanyaan yang mengemuka: sejauh mana bank sentral Nigeria bersedia menahan biaya pinjaman tinggi demi stabilitas harga, dan bagaimana dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi?



