Sutradara Hollywood Paul Feig: AI Tak Lebih dari Kumpulan Ide Usang Manusia
Baca dalam 60 detik
- Paul Feig menilai kecerdasan buatan hanya meniru masa lalu, bukan menciptakan orisinalitas baru dalam industri film.
- Sutradara Bridesmaids itu menyebut AI sebagai alat yang didorong oleh kepentingan investor demi efisiensi, bukan kebutuhan kreatif.
- Demi Moore menyerukan kolaborasi dengan AI, namun mengakui perlindungan terhadap pekerja kreatif masih belum memadai.

Paul Feig, sutradara di balik film-film seperti Bridesmaids dan Ghostbusters: Answer the Call, melontarkan kritik tajam terhadap penggunaan kecerdasan buatan (AI) di industri film. Menurutnya, AI tidak mampu menciptakan sesuatu yang benar-benar baru karena hanya mengolah ulang data dari masa lalu manusia.
Berbicara di Nantucket Film Festival, Feig yang kini berusia 63 tahun menegaskan bahwa bercerita adalah kebutuhan fundamental manusia, setara dengan makanan dan udara. Namun, kehadiran AI justru mengancam esensi tersebut. "Ini teknologi yang tidak diminta siapa pun, tetapi para miliarder menginvestasikan dana besar untuk mengurangi tenaga kerja dan meningkatkan keuntungan mereka," ujarnya.
Feig tidak bermaksud menjadi pembawa pesan kehancuran. Ia justru ingin meyakinkan para sineas bahwa AI bukanlah cerminan diri mereka saat ini. "AI hanya bisa mengambil apa yang telah kita lakukan, mencampurnya, dan menyajikannya seolah orisinal. Padahal itu hanyalah ide-ide lama, pengalaman lama, hal-hal yang sudah kita ucapkan, tulis, dan jalani," jelasnya.
Lebih jauh, Feig menekankan bahwa manusia terus berubah dan berevolusi hingga akhir hayat. "Kita memiliki pengalaman baru, pemikiran baru, ide baru. Kita adalah makhluk hidup yang menghadapi pilihan dan kemungkinan tak terbatas. AI hanya bisa mengikuti dan mencoba terdengar seperti kita, tetapi tidak akan pernah menjadi kita," tegasnya.
Pandangan Feig diamini oleh Demi Moore yang turut menyuarakan pendapatnya di Cannes Film Festival. Moore mengakui bahwa AI sudah menjadi kenyataan yang harus dihadapi Hollywood. "Melawan AI sama saja melawan hal yang pasti akan kalah. Mencari cara untuk bekerja sama dengannya adalah jalan yang lebih berharga," kata Moore. Namun, ia juga meragukan apakah industri sudah cukup melindungi para pekerjanya. "Kecenderungan saya mengatakan belum," tambahnya.
Di Indonesia, perdebatan serupa mulai bergema di kalangan sineas dan pekerja kreatif. Beberapa rumah produksi lokal telah bereksperimen dengan AI untuk pembuatan naskah dan efek visual, memicu kekhawatiran akan tergesernya peran penulis dan editor. Regulasi terkait hak cipta konten buatan AI pun masih abu-abu, membuat para kreator berada dalam posisi rentan. Jika Hollywood saja belum siap, Indonesia yang ekosistemnya lebih kecil berpotensi mengalami dampak lebih besar.
Pertanyaan yang tersisa: mampukah industri perfilman globalโdan Indonesiaโmenemukan keseimbangan antara efisiensi teknologi dan perlindungan terhadap orisinalitas manusia? Ataukah AI akan perlahan mengubah definisi kreativitas itu sendiri?



