Evans Bantah Isu Wildcard: Saya Bermain untuk Diri Sendiri, Bukan Balas Dendam
Baca dalam 60 detik
- Dan Evans memastikan langkah ke putaran kedua kualifikasi Wimbledon setelah mengalahkan Juan Carlos Prado Angelo, meski gagal mendapat wildcard tunggal.
- Petenis 36 tahun itu menegaskan absennya wildcard tidak memotivasinya lebih; ia bermain untuk kepuasan pribadi, bukan untuk membuktikan sesuatu.
- Evans akan menghadapi unggulan ke-28 Tristan Schoolkate, sementara dua petenis Inggris lainnya, Billy Harris dan Oliver Tarvet, juga melaju.

Dan Evans menegaskan bahwa absennya wildcard untuk tampil di babak utama Wimbledon tidak membuatnya termotivasi lebih saat menjalani kualifikasi. Pernyataan itu disampaikan petenis Inggris berusia 36 tahun itu usai mengalahkan Juan Carlos Prado Angelo dari Bolivia dengan skor 7-6 (7-2), 6-3 pada putaran pertama kualifikasi, Senin (23/6).
Evans, yang akan pensiun setelah turnamen ini, sebelumnya mendapat wildcard untuk nomor ganda putra bersama Henry Searle. Namun, ia tidak termasuk dalam delapan penerima wildcard untuk tunggal, sehingga harus memenangi tiga pertandingan di Roehampton pekan ini demi satu kesempatan terakhir tampil di lapangan rumput All England Club.
“Saya tidak lebih termotivasi untuk menang di sini hanya karena tidak mendapat wildcard. Saya bermain tenis untuk diri sendiri, bukan untuk membuktikan orang lain salah. Itu sudah saya lakukan sepanjang karier,” ujar Evans, seperti dikutip BBC Sport. Ia juga menepis anggapan bahwa dirinya kecewa dengan keputusan panitia. “Banyak yang memberitakan soal itu—itu tidak benar. Saya senang bisa bermain di kualifikasi dan menikmati atmosfernya.”
Meski tampil percaya diri, Evans mengakui bahwa tekanan menjelang pensiun sempat mengganggu konsentrasinya. “Saya sangat gugup di awal, terutama menjelang akhir. Saya sudah memutuskan pensiun dan saya bahagia, tapi jujur saja, di pertandingan rumput cukup sulit menjaga pikiran tetap fokus,” katanya. Ia menambahkan bahwa dukungan penonton yang memadati Roehampton membuatnya merasa seperti bermain di Wimbledon untuk pertama kali.
Keputusan Evans pensiun setelah Wimbledon tahun ini menandai akhir dari perjalanan panjang yang gemilang. Selain tiga kali tembus putaran ketiga di Wimbledon, ia pernah memenangi dua gelar ATP Tour, mencapai peringkat 21 dunia, dan menjadi bagian tim Inggris yang merebut Piala Davis 2015. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, performanya menurun akibat cedera dan usia.
Bagi pecinta tenis Indonesia, kisah Evans menjadi pengingat bahwa karier atlet profesional tidak selalu linier. Perjuangannya melalui kualifikasi—dengan tekanan emosional tinggi—bisa menjadi pelajaran tentang ketangguhan mental. Di Indonesia, di mana tenis masih tumbuh, Evans menunjukkan bahwa motivasi intrinsik lebih penting daripada pengakuan eksternal.
Selain Evans, dua petenis Inggris lainnya juga melaju: Billy Harris mengalahkan Stefano Napolitano (Italia) 6-2, 6-2, dan Oliver Tarvet menaklukkan Alex Bolt (Australia) 7-6 (7-3), 7-5. Wimbledon 2025 akan dimulai pada 29 Juni. Pertanyaan besarnya: mampukah Evans melewati dua laga tersisa dan menutup karier tunggalnya dengan penampilan di lapangan utama?



