Malaysia Tahan Rencana Kenaikan Kuota Subsidi BBM Budi95: Dampak Gencatan Senjata Timur Tengah Masih Dikaji
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Malaysia menolak usulan menaikkan kuota subsidi BBM Budi95 dari 200 liter menjadi 300 liter karena dampak gencatan senjata di Timur Tengah belum bisa diprediksi.
- Menteri Keuangan II Amir Hamzah menyatakan lebih dari 80% rakyat Malaysia masih terlindungi di bawah skema saat ini, sehingga penundaan dianggap aman.
- Malaysia juga memastikan cadangan BBM nasional aman hingga lebih dari dua bulan ke depan dan tengah diversifikasi sumber pasokan.

Pemerintah Malaysia memutuskan untuk tidak terburu-buru menaikkan kuota subsidi bahan bakar minyak (BBM) jenis RON95 dalam program Budi Madani (Budi95) dari 200 liter menjadi 300 liter per bulan. Keputusan ini diambil karena dampak jangka panjang dari gencatan senjata di Timur Tengah terhadap harga minyak global masih belum dapat diukur secara pasti.
Menteri Keuangan II, Datuk Seri Amir Hamzah Azizan, dalam konferensi pers di Putrajaya pada Senin (22/6), menegaskan bahwa evaluasi terhadap usulan kenaikan kuota tersebut masih terlalu dini. “Kami perlu menunggu dan melihat apakah gencatan senjata dapat berkelanjutan dan apa implikasinya secara keseluruhan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa prioritas pemerintah saat ini adalah tetap fokus pada perlindungan rakyat.
Di bawah skema Budi95 yang berlaku saat ini, kuota 200 liter per bulan dinilai masih mencakup lebih dari 80% populasi Malaysia. Menurut Amir Hamzah, pengurangan kuota dari 300 liter menjadi 200 liter yang diterapkan sebelumnya tidak menimbulkan dampak signifikan terhadap masyarakat. Hal ini menjadi dasar bahwa penundaan kenaikan kuota tidak akan mengganggu akses BBM bagi mayoritas warga.
Keputusan ini juga mempertimbangkan ketidakpastian pasar energi global. Gencatan senjata di Timur Tengah yang baru berlangsung beberapa pekan belum menunjukkan dampak nyata terhadap stabilitas pasokan minyak. Analis energi menilai bahwa jika konflik mereda secara permanen, harga minyak berpotensi turun, sehingga subsidi bisa lebih ringan. Namun, jika situasi kembali memanas, tekanan terhadap anggaran subsidi justru akan meningkat.
Selain soal kuota, Amir Hamzah juga memberikan jaminan terkait ketahanan pasokan BBM nasional. Ia menepis kekhawatiran bahwa stok BBM akan habis pada Agustus mendatang. “Pemerintah memiliki cadangan lebih dari dua bulan ke depan dengan mekanisme bergulir. Kami juga terus melakukan diversifikasi sumber minyak agar pasokan lebih stabil,” jelasnya. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada satu wilayah pemasok, terutama di tengah gejolak geopolitik.
Bagi Indonesia, kebijakan subsidi BBM Malaysia ini menjadi bahan perbandingan yang relevan. Indonesia sendiri masih bergulat dengan beban subsidi energi yang besar, sementara upaya pengalihan subsidi ke program tepat sasaran terus diuji. Keputusan Malaysia yang hati-hati dalam menaikkan kuota subsidi mencerminkan prinsip kehati-hatian fiskal yang juga perlu dipertimbangkan oleh pemerintah Indonesia, terutama dalam menghadapi fluktuasi harga minyak dunia.
Ke depan, pemerintah Malaysia akan terus memantau perkembangan harga minyak dan dampak gencatan senjata di Timur Tengah. Pertanyaan yang masih mengemuka adalah: seberapa cepat perubahan kondisi global akan mendorong revisi kebijakan subsidi ini, dan apakah skema Budi95 akan tetap menjadi jaring pengaman yang efektif bagi rakyat Malaysia?



