Bukan Cuma Gol: Robeknya Jersey Puma Warnai Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Empat pemain dari tim berbeda mengalami sobekan jersey buatan Puma dalam sepekan pertama turnamen, memicu pertanyaan soal durabilitas bahan Ultraweave.
- Material super ringan yang diprioritaskan demi performa atlet justru rentan robek saat tarikan keras, sementara merek lain tak menunjukkan masalah serupa.
- Insiden ini berpotensi mengubah standar desain jersey sepak bola, terutama bagi negara-negara yang menggunakan Puma seperti Portugal dan Belanda.

Piala Dunia 2026 baru berjalan sepekan, namun fenomena yang tak biasa telah menyita perhatian: jersey para pemain yang sobek di tengah pertandingan. Bukan satu atau dua, melainkan empat insiden terpisah terjadi, semuanya melibatkan kostum buatan Puma. Kejadian ini memicu diskusi tentang keseimbangan antara inovasi bahan ringan dan ketahanan di lapangan.
Insiden pertama terjadi saat laga Korea Selatan melawan Republik Ceko, ketika gelandang Pavel Sulc menarik jerseynya yang robek besar setelah ditarik pemain lawan. Disusul oleh bek Paraguay Gustavo Gomez yang jerseynya sobek di sisi tubuh saat beradu fisik dengan penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. Pemain sayap Mesir Mustafa Zico dan gelandang Maroko Neil el Aynaoui juga mengalami nasib serupa, dengan robekan horizontal melintang di bagian tengah jersey. Dalam tiga dari empat kasus, pemain harus keluar lapangan untuk mengganti kostum.
Yang menarik, semua jersey yang sobek menggunakan teknologi Ultraweave, bahan yang diklaim Puma sebagai 'jersey sepak bola tercepat di dunia'. Dengan berat hanya 72 gram per potong, bahan ini mengutamakan ringan dan sirkulasi udara, namun menurut ulasan konsumen, durabilitasnya kerap dipertanyakan. Puma sendiri membela produknya dengan menyatakan bahwa sepak bola adalah olahraga kontak tinggi, dan sobekan terjadi akibat tekanan fisik ekstrem, bukan cacat produksi. Perusahaan Jerman itu juga menegaskan bahwa pemain lebih menyukai bahan ringan untuk performa maksimal.
Fenomena ini tak hanya soal teknis, tetapi juga berdampak pada jalannya pertandingan. Setiap kali jersey sobek, wasit harus menghentikan permainan, menambah waktu istirahat yang sudah ada karena jeda hidrasi wajib. Bagi penggemar di Indonesia, yang kerap membeli jersey replika atau original untuk mendukung tim favorit, pertanyaan tentang durabilitas menjadi relevan. Apakah bahan yang sama digunakan pada jersey versi penggemar? Puma mengonfirmasi bahwa versi 'authentic' untuk konsumen menggunakan bahan identik, sementara versi 'replica' berbeda.
Menurut analis perlengkapan olahraga, prioritas pada bobot ringan memang wajar dalam olahraga elite, namun insiden beruntun ini menunjukkan perlunya pengujian lebih ketat dalam simulasi tarikan keras. Puma mengklaim telah melakukan uji coba ketat selama setahun, namun kenyataan di lapangan berkata lain. Ke depannya, produsen mungkin harus merevisi komposisi bahan tanpa mengorbankan kenyamanan. Akankah Puma menarik jersey yang beredar atau justru menganggap ini risiko wajar? Jawabannya akan menentukan kepercayaan tim-tim besar yang mengenakan merek tersebut di sisa turnamen.



