Lucid PHK 18% Karyawan di AS, COO Mundur di Tengah Tekanan Industri EV
Baca dalam 60 detik
- Produsen mobil listrik Lucid Group memangkas 18% tenaga kerja di Amerika Serikat dan kehilangan COO Marc Winterhoff sebagai bagian dari restrukturisasi besar.
- Langkah ini menyusul PHK 12% pada Februari lalu, mencerminkan tekanan biaya yang meningkat akibat perang harga dan persaingan ketat di pasar EV global.
- Lucid mengandalkan SUV Gravity dan platform mid-size, serta kemitraan robotaxi dengan Uber dan Nuro, untuk membalikkan kinerja keuangan yang tertekan.

Produsen mobil listrik asal Amerika Serikat, Lucid Group, mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 18% tenaga kerja di Amerika Serikat dan menyatakan bahwa Chief Operating Officer (COO) Marc Winterhoff telah meninggalkan perusahaan. Langkah ini menjadi sinyal terbaru dari tekanan yang dihadapi perusahaan rintisan kendaraan listrik di tengah persaingan harga yang semakin ketat dan kebutuhan untuk memperbaiki profitabilitas.
Keputusan tersebut diumumkan pada Senin (22/6) waktu setempat, menjadikannya perubahan eksekutif besar kedua dalam beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, pada April lalu, Lucid menunjuk mantan CEO Schindler, Silvio Napoli, sebagai direktur utama menggantikan Peter Rawlinson yang mundur pada Februari 2025. Winterhoff sendiri sempat menjabat sebagai CEO interim selama lebih dari setahun setelah kepergian Rawlinson.
PHK kali ini lebih dalam dibandingkan pemangkasan 12% tenaga kerja AS yang dilakukan Lucid pada Februari lalu. Saat itu, perusahaan berusaha menghemat kas di tengah industri yang sarat dengan pengeluaran besar. Hingga Desember tahun lalu, Lucid mempekerjakan sekitar 9.000 orang secara global. Perusahaan menolak merinci jumlah pasti karyawan yang terkena dampak, namun menyebutkan bahwa pemangkasan akan menyasar pekerja tetap, kontraktor, dan pekerja produksi per jam. Selain itu, Lucid juga menghentikan shift kedua di pabrik utama AMP-1 di Arizona.
Lucid juga tengah bergulat dengan masalah operasional. Pada Februari lalu, gangguan terkait pemasok menghambat pengiriman SUV Gravity andalan mereka. Bulan lalu, perusahaan menangguhkan proyeksi produksi untuk tahun 2026 sambil meninjau ulang strategi bisnis. Langkah-langkah ini menunjukkan betapa beratnya tantangan yang dihadapi produsen mobil listrik murni di tengah peralihan konsumen ke model yang lebih murah dan persaingan dari pabrikan mapan seperti Tesla serta pendatang baru dari China.
Untuk mendorong pertumbuhan, Lucid mengandalkan SUV Gravity dan platform kendaraan ukuran menengah yang akan datang. Perusahaan juga menjajaki peluncuran robotaxi melalui kemitraan dengan Uber dan perusahaan rintisan otonom Nuro. Namun, jalan menuju profitabilitas masih panjang. Analis memperkirakan bahwa tekanan biaya dan persaingan harga akan terus menggerus margin produsen EV kecil dalam waktu dekat.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat akan volatilitas industri kendaraan listrik global. Meskipun pasar EV domestik masih bertumpu pada model hybrid dan impor, langkah Lucid menunjukkan bahwa bahkan pemain premium pun tidak kebal terhadap koreksi. Ke depan, investor dan pelaku industri di Tanah Air perlu mencermati strategi adaptasi produsen EV global, karena kebijakan dan tren di Amerika Serikat kerap menjadi indikator bagi pasar negara berkembang.
Dengan penghematan tahunan sebesar US$158 juta, Lucid berharap dapat memperpanjang pijakan finansialnya. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah langkah ini cukup untuk membawa perusahaan menuju titik impas, atau justru menjadi awal dari konsolidasi yang lebih luas di industri kendaraan listrik?



