Giovanni Malago Ditunjuk Pimpin Sepak Bola Italia: Misi Besar Bangkitkan Kembali Kejayaan
Baca dalam 60 detik
- Giovanni Malago terpilih sebagai presiden FIGC dengan 68,58% suara, menggantikan Gabriele Gravina yang mundur setelah Italia gagal lolos ke Piala Dunia ketiga kali berturut-turut.
- Malago, yang sukses menggelar Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina, menghadapi tugas berat membenahi pembinaan pemain muda dan mengembalikan kepercayaan publik.
- Krisis sepak bola Italia menjadi pelajaran bagi negara lain, termasuk Indonesia, tentang pentingnya regenerasi dan manajemen federasi yang visioner.

Giovanni Malago resmi memimpin Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) setelah terpilih dalam sidang umum di Roma, Senin (22/6). Pria 67 tahun itu mendapat mandat untuk membangkitkan kembali kejayaan empat kali juara dunia yang kini terpuruk akibat gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Malago, yang sebelumnya menjabat ketua Komite Olimpiade Nasional Italia dan sukses mengarahkan penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina, mengalahkan Giancarlo Abete dengan perolehan suara 68,58 persen. Ia menggantikan Gabriele Gravina yang mengundurkan diri setelah kekalahan memalukan dari Bosnia-Herzegovina pada babak play-off April lalu. Kekalahan itu memicu kemarahan luas dari suporter dan politisi, apalagi setelah klub-klub Italia juga tersingkir lebih awal dari kompetisi Eropa.
"Saya tidak takut, tetapi saya sangat sadar akan tanggung jawab. Ekspektasi sangat tinggi, dan itu juga terjadi di dalam federasi sendiri," ujar Malago dalam wawancara usai pemilihan. Ia langsung dihadapkan pada sejumlah prioritas: menunjuk pelatih anyar tim nasional putra, merombak sistem pembinaan usia muda, dan mempercepat persiapan Kejuaraan Eropa 2032 yang akan digelar bersama Turki.
Malago menekankan bahwa federasi tidak boleh sekadar menjadi administrator, melainkan sumber inspirasi. "Akar kami tidak boleh menjadi nostalgia atau beban; kami harus mengubahnya menjadi dorongan untuk melihat musim baru โ yang berani, penuh kemenangan, rendah hati namun ambisius," katanya sebelum pemungutan suara. Pernyataan ini menandai perubahan pendekatan dari era Gravina yang dinilai kurang responsif terhadap kritik.
Krisis Italia sebenarnya sudah terlihat sejak lama. Legenda sepak bola Roberto Baggio pernah memperingatkan bahwa sistem pembinaan pemain muda Italia sudah tidak lagi memadai. Kegagalan melahirkan talenta kelas dunia menjadi penyebab utama kemerosotan prestasi. Malago pun berjanji akan mereformasi total sektor ini, meski ia sadar tidak bisa bekerja sendiri. "Sendiri saya tidak bisa berbuat apa-apa, bersama kita bisa melakukan segalanya," ujarnya.
Bagi Indonesia, kisah Italia menjadi cermin penting. Federasi sepak bola nasional (PSSI) tengah berupaya memperbaiki pembinaan usia muda dan meningkatkan kualitas kompetisi. Kegagalan Italia menunjukkan bahwa prestasi masa lalu tidak menjamin masa depan jika regenerasi diabaikan. Langkah Malago yang mengedepankan transparansi dan kolaborasi bisa menjadi referensi bagi pengelola sepak bola di Tanah Air.
Gravina, yang memimpin FIGC sejak 2018, mengakui kesalahannya. "Saya sudah bilang, saya seharusnya pergi lebih awal," katanya kepada wartawan saat sidang dimulai. Kini, dengan kepemimpinan baru, Italia berharap dapat bangkit. Namun, tantangan besar masih menanti: menyatukan federasi yang terpecah, memulihkan kepercayaan publik, dan bersaing di level tertinggi Eropa. Pertanyaan besarnya, akankah Malago mampu mengembalikan Italia ke jalur kemenangan sebelum Piala Dunia 2030?



