Malagò Resmi Nahkodai FIGC: Tugas Pertama Cari Pelatih Baru Timnas Italia
Baca dalam 60 detik
- Giovanni Malagò memenangi pemilihan presiden FIGC dengan 68,58% suara, mengalahkan Giancarlo Abete.
- Kemenangan ini terjadi setelah Gabriele Gravina mundur akibat kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia ketiga kali berturut-turut.
- Malagò, mantan ketua CONI, langsung dihadapkan pada tugas krusial: menunjuk pelatih anyar untuk Nazionale.

Giovanni Malagò resmi terpilih sebagai presiden baru Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) dalam pemungutan suara yang digelar di Roma, Senin (4/11). Pria berusia 67 tahun itu mengantongi 68,58 persen suara delegasi, mengungguli rivalnya Giancarlo Abete yang hanya memperoleh 29,17 persen, sementara 2,25 persen sisanya berupa suara blanko.
Pemilihan ini digelar menyusul pengunduran diri Gabriele Gravina setelah Italia gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun—sebuah rekor kelam yang memicu krisis kepercayaan di tubuh federasi. Gravina, yang menjabat sejak 2018, menyerahkan tongkat estafet di tengah tekanan publik yang menginginkan perubahan radikal dalam sistem pembinaan sepak bola Italia.
Malagò bukan wajah baru di panggung olahraga Italia. Sebelumnya ia menjabat sebagai presiden Komite Olimpiade Italia (CONI) dari 2013 hingga 2025, dan baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai ketua panitia penyelenggara Olimpiade Musim Dingin Milano-Cortina 2026. Pengalaman eksekutifnya di level internasional menjadi modal utama yang diyakini para delegasi untuk membawa FIGC keluar dari keterpurukan.
Sistem pemilihan FIGC memang unik karena tidak menganut prinsip satu orang satu suara. Liga Serie A memiliki bobot 18 persen, Serie B 6 persen, Serie C 12 persen, sementara Liga Amatir (LND) mendominasi dengan 34 persen. Asosiasi Pemain dan Pelatih masing-masing memiliki 20 persen dan 10 persen. Abete, yang juga menjabat presiden LND, sebenarnya diunggulkan karena basis suara amatir yang besar. Namun, mayoritas delegasi dari liga profesional dan asosiasi pemain justru memilih Malagò, menandakan keinginan kuat untuk figur yang lebih independen dan berpengalaman di level tinggi.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, dinamika kepemimpinan FIGC ini relevan mengingat PSSI juga tengah berbenah setelah serangkaian kegagalan di level internasional. Proses transisi kepemimpinan di federasi besar seperti Italia bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya akuntabilitas dan regenerasi. “Malagò datang dengan rekam jejak yang solid di CONI. Ia tahu bagaimana mengelola organisasi olahraga besar dan bernegosiasi dengan pemangku kepentingan,” ujar seorang analis olahraga Italia yang enggan disebut namanya.
Tugas pertama yang menanti Malagò adalah memilih pelatih baru untuk tim nasional Italia. Nama-nama seperti Antonio Conte, Roberto Mancini (yang pernah menangani sebelumnya), dan pelatih muda seperti Vincenzo Italiano disebut-sebut sebagai kandidat. Keputusan ini akan menjadi ujian awal apakah Malagò mampu memenuhi ekspektasi publik yang menginginkan Italia kembali berjaya di kancah global. “Kami butuh pelatih yang bisa membangun kembali identitas sepak bola Italia: disiplin taktis, mentalitas juara, dan keberanian memainkan pemain muda,” tambah sang analis.
Ke depan, Malagò juga harus menyelesaikan masalah struktural yang sudah lama membelit FIGC, termasuk pembinaan usia muda, kompetisi domestik yang kurang kompetitif, dan ketergantungan pada pemain naturalisasi. Pertanyaan besarnya: mampukah ia membawa perubahan secepat yang diharapkan, atau Italia akan kembali terjebak dalam siklus kegagalan yang sama?



